Wednesday, January 21, 2015

Tugas 4 Teori Organisasi Umum

KASUS 1

Hartoyo Sebagai Manajer
Drs. Hartoyo telah menjadi manajer tingkat menengah dalam departemen produksi suatu perusahaan kurang lebih 6 bulan. Hartoyo bekerja pada perusahaan setelah dia pensiun dari tentara. Semangat kerja departemennya rendah sejak dia bergabung dalam perusahaan. Beberapa dari karyawan menunjukkan sikap tidak puas dan agresif.

Pada jam istirahat makan siang, Hartoyo bertanya pada drs. Abdul hakim, ak, manajer departemen keuangan, apakah dia mengetahui tentang semangat kerja yang rendah dalam departemen produksi. Abdul hakim menjawab bahwa dia telah mendengar secara informasi melalui komunikasi "grapevine", bahwa para karyawan Hartoyo merasa tidak senang dengan pengambilan semua keputusan yang dibuat sendiri olehnya. Dia (Hartoyo) menyatakan, "dalam tentara, saya membuat semua keputusan untuk bagian saya, dan semua bawahan mengharapkan saya untuk berbuat seperti itu".

PERTANYAAN KASUS :

1. Gaya kepemimpinan macam apa yang digunakan oleh Hartoyo? bagaimana keuntungan dan kelemahannya? Bandingkan dengan motivasi bawahan Hartoyo sekarang dan dulu sewaktu ditentara.
2. Konsekuensinya apa, bila Hartoyo tidak dapat merubah gaya kepemimpinannya? apa saran saudara bagi perusahaan untuk merubah keadaan?

TANGGAPAN SAYA

Menurut saya, gaya kepemimpinan Hartoyo adalah gaya kepemimpinan Militeristik.
berikut penjelasannya :

1. Gaya Kepemimpinan Militeristik 
Tipe pemimpin seperti ini sangat mirip dengan tipe pemimpin otoriter yang merupakan tipe pemimpin yang bertindak sebagai diktator terhadap para anggota kelompoknya. Adapun sifat-sifat dari tipe kepemimpinan militeristik adalah:
  • lebih banyak menggunakan sistem perintah/komando, keras dan sangat otoriter, kaku dan seringkali kurang bijaksana.
  • menghendaki kepatuhan mutlak dari bawahan.
  • sangat menyenangi formalitas, upacara-upacara ritual dan tanda-tanda kebesaran yang berlebihan.
  • menuntut adanya disiplin yang keras dan kaku dari bawahannya.
  • tidak menghendaki saran, usul, sugesti, dan kritikan-kritikan dari bawahannya.
  • komunikasi hanya berlangsung searah.
Kelebihan :  
  • Karyawan menjadi sangat disiplin.
  • Keputusan dapat diambil secara cepat
Kekurangan :
  • Pemimpin tidak dapat menerima kritik atau saran dari karyawannya.
  • Pemimpin tidak dapat berkomunikasi dengan baik dengan karyawannya.
  • Dapat membuat bawahan bersikap agresif dan menunjukan sikap tidak puas.
2. Konsekuensi Gaya kepemimpinan tersebut 
Menurut saya, Konsekuensi yang terjadi apabila tidak ada perubahan gaya kepemimpinannya adalah bawahan akan terus bersikap tidak puas dan agresif kepada pemimpin, dan hasil kerja dari bawahan pun tidak akan maksimal. Hasil kerja yang tidak maksimal dapat memberi pengaruh buruk pada perusahaan, terkhususnya pada area kepemimpinan pak Hartoyo.
Dan saran saya, Hartoyo selaku pemimpin harus merubah gaya kepemimpinanannya menjadi Demokratis, yaitu gaya kepemimpinan yang memiliki kemampuan mempengaruhi orang lain agar bersedia bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan cara berbagai kegiatan yang akan dilakukan ditentukan bersama antara pimpinan dan bawahan. Sehingga akan terjalin komunikasi yang baik antara bawahan dengan atasan.

Komunikasi dalam Organisasi

Klasifikasi komunikasi dalam organisasi :
1. Komunikasi langsung
Komunikasi yang dilakukan tanpa melalui media perantara. Contoh : seorang manajer memberikan instruksi kepada pegawainya saat rapat.
2. Komunikasi tidak langsung
Komunikasi yang dilakukan melalui media perantara. Contoh : penyiaran berita melalui media televise atau radio.
3. Komunikasi horizontal
Komunikasi ini terjadi apabila pesan, berita laporan maupun informasi yang disampaikan bertujuan untuk menjalin hubungan baik dengan sesama karyawan maupun bertujuan untuk melakukan koordinasi dalam bekerja sama. Contoh : seorang karyawan memberikan informasi mengenai pekerjaan kepada karyawan baru.
4. Komunikasi formal
Komunikasi yang dilakukan dengan menggunakan bahasa Indonesia baku. Contoh : seorang karyawan ingin menyampaikan laporan kepada atasannya.
5. Komunikasi informal
Komunikasi yang dilakukan dengan tidak menggunakan bahasa Indonesia baku, melainkan bahasa pergaulan sehari-hari. Contoh : komunikasi antar teman/sahabat.

Faktor Perubahan Organisasi
1. Faktor Intern
–  Terhambatnya komunikasi antara anggota organisasi
–  Adanya konflik antar anggota sehingga menghambat kerja sama.
–  Adanya masalah keuangan
2. Faktor Ekstern
–  Perubahan lingkungan seperti perkembangan teknologi
–  Perubahan minat masyarakat.

Tahapan Perubahan dalam Organisasi
Proses terjadinya suatu perubahan di dalam organisasi meliputi enam tahap, hal ini diungkapkan oleh L.C. Megginson, Donald C.M. dan Paul H.P.,Jr. seperti dikutip oleh T.Hani Handoko. Adapun tahap-tahap tersebuat adalah sebagai berikut:
1)  Tekanan dan Desakan.
Pada tahap ini manajemen tingkat atas mulai merasakan adanya masalah, tekanan, desakan dan kebutuhan akan suatu perubahan. Hal ini ditandai dengan adanya penurunan produktivitas, volume penjualan dan laba, perputaran tenaga kerja tinggi dan kalahnya persaingan produk dipasaran, dan sebagainya.
2) Intervensi dan Reorientasi.
Setelah merasakan adanya tekanan dan desakan, para manajer mulai mencoba berusaha menyelesaikannya dengan mencari dan menentukan serta merumuskan permasalahan, untuk itu mereka biasanya menyewa seseorang atau beberapa konsultan atau bisa juga pihak internal (karyawan perusahaan) sebagai pengantar perubahan.
3)  Diagnosa dan Pengenalan Masalah.
Pada tahap ini pengantar perubahan mulai mengumpulkan berbagai informasi (data), kemudian menganalisanya. Masalah yang paling penting dikenali dan diperhatikan untuk dipecahkan.
4)   Penemuan dan Komitmen penyelesaian
Pada tahap ke empat ini, pengantar perubahan dan merangsang pemikiran, kretivitas serta mulai meninggalkan “metode-metode kerja lama”, menggantinya dengan mtode-metode baru yang lebih afektif. Begitu juga untuk penyesuaian dibuatlah rencana program-program latihan, keterampilan, peningkatan wawasan, dll.
5)   Percobaan dan Pencarian Hasil
Setelah alternatif terbaik untuk penyelesaian ditemukan dan dikembangkan, selanjutnya diadakan percobaan penerapannya untuk diketahui hasilnya.
6)   Penguatan dan Penerimaan
Pada tahap ini, setelah penerapan program-program kegiatan dalam rangka penyesuaian dengan perubahan ataupun pengembangannya telah berhasil dan sesuai dengan keinginan, maka kegiatan untuk perubahan tersebut diusahakan harus diterima oleh para karyawan dan menjadi penguat yang dapat mengikat semua karyawan pada perubahan.

Pengembangan Organisasi
Pengembangan organisasi yang efektif memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
  1. Merupakan strategi terencana dalam mewujudkan perubahan organisasional, yang memiliki sasaran jelas berdasarkan diagnosa yang tepat tentang permasalahan yang dihadapi oleh organisasi.
  1. Merupakan kolaborasi antara berbagai pihak yang akan terkena dampak perubahan yang akan terjadi.
  1. Menekankan cara-cara baru yang diperlukan untuk meningkatkan kinerja seluruh organisasi dan semua satuan kerja dalam organisasi.
  1.  Mengandung nilai humanistik dimana pengembangan potensi manusia menjadi bagian terpenting.
  1. Menggunakan pendekatan komitmen sehingga selalu memperhitungkan pentingnya interaksi, interaksi dan interdependensi antara berbagai satuan kerja sebagai bagian integral di suasana yang utuh.
  1.  Menggunakan pendekatan ilmiah dalam upaya meningkatkan efektivitas organisasi.
Peningkatan Kemampuan Berkomunikasi
Ada berbagai teknik yang dirancang para ahli, dengan tujuan meningkatkan kemampuan berkomunikasi serta bekerja secara efektif, antar-individu maupun antar-kelompok dalam organisasi. Beberapa teknik yang sering digunakan berikut ini.
  1. Sensitivity training, merupakan teknik OD yang pertama diperkenalkan dan yang dahulu paling sering digunakan. Teknik ini sering disebut juga T-group. Dalam kelompok kelomok T (singkatan training) yang masing masing terdiri atas 6 – 10 peserta, pemimpin kelompok (terlatih) membimbing peserta meningkatkan kepekaan (sensitivity) terhadap orang lain, serta ketrampilan dalam hubunga antar-pribadi.
  1. Team Building, adalah pendekatan yang bertujuan memperdalam efektivitas serta kepuasaan tiap individu dalam kelompok kerjanya atau tim. Teknik team building sangat membantu meningkatkan kerjasama dalam tim yang menangani proyek dan organisasinya bersifat matriks.
  1. Survey feedback. Dalam teknik sruvey feedback. Tiap peserta diminta menjawab kuesioner yang dimaksud untuk mengukur persepsi serta sikap mereka (misalnya persepsi tentang kepuasan kerja dan gaya kepemimpinan mereka). Hasil surveini diumpan balikkan pada setiap peserta, termasuk pada para penyelia dan manajer yang terlibat. Kegiatan ini kemudian dilanjutkan dengan kuliah atau lokakarya yang mengevaluasi hasil keseluruhan dan mengusulkan perbaikan perbaikan konstruktif.
  1. Transcational Analysis (TA). TA berkonsentrasi pada gaya komunikasi antar-individu. TA mengajarkan cara menyampaikan pesan yang jelas dan bertanggung jawab, serta cara menjawab yang wajar dan menyenangkan. TA dimaksudkan untuk mengurangi kebiasaan komunikasi yang buruk dan menyesatkan.
  1. Intergroup activities. Fokus dalam teknik intergroup activities adalah peningkatan hubungan baik antar-kelompok.Ketergantungan antar kelompok , yang membentuk kesatuan organisasi, menimbulkan banyak masalah dalam koordinasi. Intergroup activities dirancang untuk meningkatkan kerjasama atau memecahkan konflik yang mungkin timbul akibat saling ketergantungan tersebut.
  1. Proses Consultation. Dalam Process consultation, konsultan OD mengamati komunikasi , pola pengambilan keputusan , gaya kepemimpinan, metode kerjasama, dan pemecahan konflik dalam tiap unit organisasi. Konsultan kemudian memberikan umpan balik pada semua pihak yang terlibat tentang proses yang telah diamatinya , serta menganjurkan tindakan koreksi.
  1. Grip OD. Pendekatan grip pada pengembangan organisasi di dasarkan pada konsep managerial grip yang diperkenalkan oleh Robert Blake dan Jane Mouton. Konsep ini mengevaluasi gaya kepemimpinan mereka yang kurang efektif menjadi gaya kepemimpinan yang ideal, yang berorientasi maksimum pada aspek manusia maupun aspek produksi.
  1. Third-party peacemaking. Dalam menerapkan teknik ini, konsultan OD berperan sebagai pihak ketiga yang memanfaatkan berbagai cara menengahi sengketa, serta berbagai teknik negosiasi untuk memecahkan persoalan atau konflik antar-individu dan kelompok.

Kepemimpinan
Kepemimpinan (leadership) adalah sifat atau perilaku yang dapat memberikan pengarahan kepada seseorang untuk mencapai suatu tujuan, dan dapat mengambil keputusan.

Otokratis, mempunyai ciri-ciri :
–  Semua penentuan kebijakan dilakukan oleh pimpinan.
–  Teknik-teknik dan langkah-langkah kegiatan didikte oleh atasan setiap waktu.
–  Pemimpin biasanya mendikte tugas kerja bersama setiap anggota.
–  Pemimpin cenderung menjadi pribadi dalam pujian dan kecamannya terhadap kerja setiap anggota.

Sumber :
  • http://ekonomi.kompasiana.com/manajemen/2014/04/16/gaya-gaya-kepemimpinan-649412.html 
  • https://izeminicho.wordpress.com/2014/12/29/teori-komunikasi-dan-kepemimpinan-dalam-organisasi/

Sunday, January 18, 2015

Tugas 1 Teori Organisasi Umum

Teori Organisasi dan Manajemen

Organisasi
Pada dasarnya Organisasi adalah  tempat atau wadah dimana orang-orang berkumpul, kerjasama secara rasional dan sistematis, terencana, terorganisasi, terpimpin dan terkendali, dalam memanfaatkan sumber daya (sumber daya seperti uang, material, mesin, metode, lingkungan), sarana-parasarana, data, dan lain sebagainya yang digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan organisasi
Teori Organisasi
Teori organisasi Muncul pada abad 19 dilatarbelakangi oleh Revolusi Inggris dan lahirnya perusahaan raksasa di Amerika Serikat. Berikut ini akan dibahas mengenai teori organisasi klasik yang dipelopori oleh Max Weber, teori neoklasik, dan teori organisasi modern.
Teori organisasi adalah studi tentang bagaimana organisasi menjalankan fungsinya dan bagaimana mereka mempengaruhi dan dipengaruhi oleh orang-orang yang bekerja di dalamnya ataupun masyarakat di lingkup kerja mereka.
Teori organisasi adalah suatu konsefsi, pandangan, tinjauan, ajaran, pendapat atau pendekatan tentang pemecahan masalah organisasi agar lebih berhasil dalam mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Masalah adalah segala sesuatu yang segala sesuatu yang ada hubungannya dengan kepentingan organisasi yang memerlukan pemecahan dan pengambilan keputusan.
Ada banyak masalah yang dihadapi organisasi (kompleks) dan memerlukan pemecahan tersendiri sehingga muncul berbagai kajian untuk lebih memahami efektivitas organisasi Teori organisasi Muncul pada abad 19 dilatarbelakangi oleh Revolusi Inggris dan lahirnya perusahaan raksasa di Amerika Serikat.
 
Ciri-Ciri Organisasi
Seperti telah diuraikan di atas bahwa organisasi memiliki tiga unsur dasar, dan secara lebih rinci organisasi memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a.    Adanya suatu kelompok orang yang dapat dikenal dan saling mengenal,
b.    Adanya kegiatan yang berbeda-beda, tetapi satu sama lain saling berkaitan (interdependent part) yang merupakan kesatuan kegiatan,
c.    Tiap-tiap orang memberikan sumbangan atau kontribusinya berupa; pemikiran, tenaga, dan lain-lain,
d.   Adanya kewenangan, koordinasi dan pengawasan,
e.    Adanya tujuan yang ingin dicapai.
 
Prinsip-Prinsip Organisasi
Prinsip-prinsip organisasi banyak dikemukan oleh para ahli, salah satunya A.M. Williams yang mengemukakan pendapatnya cukup lengkap dalam bukunya “Organization of Canadian Government Administration” (1965), bahwa prinsip-prinsip organisasi meliputi :
  • Prinsip bahwa Organisasi Harus Mempunyai Tujuan yang Jelas,
  • Prinsip Skala Hirarkhi,
  • Prinsip Kesatuan Perintah,
  • Prinsip Pendelegasian Wewenang,
  • Prinsip Pertanggungjawaban,
  • Prinsip Pembagian Pekerjaan,
  • Prinsip Rentang Pengendalian,
  • Prinsip Fungsional,
  • Prinsip Pemisahan,
  • Prinsip Keseimbangan,
  • Prinsip Fleksibilitas,
  • Prinsip Kepemimpinan
Unsur – unsur Organisasi
Sebagai wadah atau tempat untuk bekerja sama, artinya : Organisasi merupakan suatu wadah atau tempat dimana orang-orang dapat bersama untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan tanpa adanya organisasi menjadi saat bagi orang-orang untuk melaksanakan suatu kerja sama, sebab setiap orang tidak mengetahui bagaimana cara bekerja sama tersebut akan dilaksanakan. Pengertian tempat di sini dalam arti yang konkrit, tetapi dalam arti yang abstrak, sehingga dengan demikian tempat sini adalah dalam arti fungsi yaitu menampung atau mewadai keinginan kerja sama beberapa orang untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam pengertian umum, maka organisasi dapat berubah wadah sekumpulan orang-orang yang mempunyai tujuan tertentu misalnya organisasi buruh, organisasi wanita, organisasi mahasiswa dan sebagainya.
Proses kerja sama sedikitnya antar dua orang, artinya : Suatu organisasi, selain merupakan tempat kerja sama juga merupakan proses kerja sama sedikitnya antar dua orang. Dalam praktek, jika kerja sama tersebut di lakukan dengan banyak orang, maka organisasi itu di susun harus lebih sempurna dengan kata lain proses kerja sama di lakukan dalam suatu organisasi, mempunyai kemungkinan untuk di laksanakan dengan lebih baik hal ini berarti tanpa suatu organisasi maka proses sama itu hanya bersifat sementara, di mana hubungan antar kerja sama antara pihak-pihak bersangkutan kurang dapat diatur dengan sebaik-baiknya.
Jelas tugas kedudukannya masing-masing, artinya : Dengan adanya organisasi maka tugas dan kedudukan masing-masing orang atau pihak hubungan satu dengan yang lain akan dapat lebih jelas, dengan demikian kesimpulan dobel pekerjaan dan sebagainya akan dapat di hindarkan. Dengan kata lain tanpa orang yang baik mereka akan bingung tentang apa tugas-tugasnya dan bagaimana hubungan antara yang satu dengan yang lain.
Ada tujuan tertentu, artinya : Betapa pentingnya kemampuan mengorganisasi bagi seorang manajer. Suatu perencana yang kurang baik tetapi organisasinya baik akan cenderung lebih baik hasilnya dari pada perencanaan yang baik tetapi organisasi tidak baik.
 
Manajemen
Manajemen adalah seni melaksanakan dan mengatur. Manajemen secara universal belum memiliki difenisi yang tepat dan dapat diterima. Mary Parker Follet mendifinisikan manajemen sebagai seni menyelesaikan pekerjaan tapi melalui orang lain, artinya seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi.
Untuk mencapai sasaran secara efektif dan efesien, manajemen perlu melewati beberapa proses , yaitu proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya.
Fungsi manajemen
Dalam Manajemen terdapat fungsi-fungsi manajemen yang terkait erat di dalamnya. Pada umumnya ada empat fungsi manajemen yang banyak dikenal masyarakat yaitu fungsi perencanaan (planning), fungsi pengorganisasian (organizing), fungsi pengarahan (directing) dan fungsi pengendalian (controlling). Untuk fungsi pengorganisasian terdapat pula fungsi staffing (pembentukan staf). Para manajer dalam organisasi perusahaan bisnis diharapkan mampu menguasai semua fungsi manajemen yang ada untuk mendapatkan hasil manajemen yang maksimal.
 Di bawah ini akan dijelaskan definisi atau pengertian masing-masing fungsi manajemen – POLC :
1. Fungsi Perencanaan / Planning
Fungsi perencanaan adalah suatu kegiatan membuat tujuan perusahaan dan diikuti dengan membuat berbagai rencana untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan tersebut.
2. Fungsi Pengorganisasian / Organizing
Fungsi perngorganisasian adalah suatu kegiatan pengaturan pada sumber daya manusia dan sumberdaya fisik lain yang dimiliki perusahaan untuk menjalankan rencana yang telah ditetapkan serta menggapai tujuan perusahaan.
3. Fungsi Pengarahan / Directing / Leading
Fungsi pengarahan adalah suatu fungsi kepemimpinan manajer untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi kerja secara maksimal serta menciptakan lingkungan kerja yang sehat, dinamis, dan lain sebagainya.
4. Fungsi Pengendalian / Controling
Fungsi pengendalian adalah suatu aktivitas menilai kinerja berdasarkan standar yang telah dibuat untuk kemudian dibuat perubahan atau perbaikan jika diperlukan.
Pengalaman Mangikuti Organisasi
Organisasi yang pernah saya ikuti yaitu adalah MPK ( Majelis Permusyawaratan Kelas ) . Saya menjabat sebagai Wakil Ketua di organisasi itu . Tugas saya ialah membantu ketua dalam mengawasi osis, membantu dalam penandatanganan lembar kegiatan, mengevaluasi kinerja osis, dll . Jabatan tersebut memiliki tanggung jawab yang besar, dan tugas-tugasnya pun sulit dilakukan, akan tetapi banyak pelajaran yang bisa diambil saat itu, dan itu merupakan pengalaman yang tidak terlupakan. 
 
Referensi :

Tugas 3 ISD (9 Desember 2014)

PENGERTIAN PELAPISAN SOSIAL DAN KESAMAAN DERAJAT

Pengertian Pelapisan Sosial
Pelapisan Sosial dapat berarti pembedaan antar warga dalam masyarakat ke dalam kelas-kelas sosial secara bertingkat. Wujudnya adalah terdapat lapisan-lapisan di dalam masyarakat di antaranya ada kelas sosial tinggi, sedang, dan rendah.
Pelapisan Sosial merupakan perbedaan tinggi dan rendahnya kedudukan atau posisi seseorang dalam kelompoknya, bila dibandingkan dengan posisi seseorang maupun kelompok lainnya. Dasar tinggi dan rendahnya lapisan sosial seseorang itu disebabkan oleh bermacam-macam perbedaan, seperti kekayaan di bidang ekonomi, nilai-nilai sosial, serta kekuasaan dan wewenang.

Terjadinya Pelapisan Sosial
Proses ini berjalan sesuai dengan perumbuhan masyarakat itu sendiri. Adapun orang-orang yang menduduki lapisan tertentu di bentuk bukan berdasarkan atas kesengajaan yang disusun sebelumnya oleh masyarakat itu, tetapi berjalan secara alamiah dengan sendirinya. Pengakuan-pengakuan terhadap kekuasaan dan wewenang tumbuh dengan sendirinya. Sistem pelapisan yang disusun dengan sengaja ditujukan untuk mengejar tujuan bersama. Didalam sistem pelapisan ini ditentukan secara jelas dan tegas adanya wewenang dan kekuasaan yang diberikan kepada seseorang.
Dengan adanya pembagian yang jelas dalam hal wewenang dan kekuasaan ini maka didalam organisasi itu terdapat keteraturan sehingga jelas bagi setiap orang di tempat mana letaknya kekuasaan dan wewenang yang di miliki dan dalam suatu organisasi baik secara vertikal maupun secara horizontal. Sistem pelapisan yang dibentuk dengan sengaja ini dapat kita lihat, misalnya didalam organisasi pemerintahan, organisasi partai politik, perusahaan besar, perkumpulan-perkumpulan resmi, dll.

Didalam sistem organisasi yang disusun dengan cara ini mengandung dua sistem, ialah :
  • Sistem Fungsional, merupakan pembagian kerja kepada kedudukan yang tingkatnya berdampingan dan harus bekerja sarna dalam kedudukan yang sederajat, misalnya didalam organisasi perkantoran ada kerja sama anatara kepala-kepala seksi dan lain-lain.
  • Sistem Skalar, merupakan pembagian kekuasaan menurut tangga atau jenjang dari bawah ke atas (vertikal).

Perbedaan Sistem Pelapisan Menurut Sifatnya
Menurut sifatnya, maka sistem pelapisan dalam masyarakat dapat dibedakan menjadi :
  • Sistem Pelapisan Masyarakat yang Tertutup, didalam sistem ini permindahan anggota masyarakat ke lapisan yang lain baik ke atas maupun ke bawah tidak mungkin terjadi, kecuali ada hal-hal yang istimewa. Didalam sistem yang demikian itu satu-satunya jalan untuk dapat masuk menjadi anggota dari suatu lapisan dalam masyarakat adalah karena kelahiran. Sistem pelapisan tertutup kita temui misalnya di india yang masyarakatnya mengenal sistem kasta.
  • Sistem Pelapisan Masyarakat yang Terbuka, Didalm sistem yang demikian ini setiap anggota masyarakat memiliki kesempatan untuk jatuh ke lapisan yang ada dibawahnya atau naik ke lapisan yang di atasnya. Sistem yang demikian ini dapat kita temukan misalnya didalam masyarakat di Indonesia sekarang ini. Setiap orang diberi kesempatan untuk menduduki segala jabatan bila ada kesempatan dan kemampuan untuk itu.

Beberapa Teori Tentang Pelapisan Sosial
Aristoteles, mengatakan bahwa didalam tiap-tiap Negara terdapat tiga unsur, yaitu mereka yang kaya sekali, mereka yang melarat sekali, dan mereka yang berada di tengah-tengah nya. Prof. Dr. Selo Sumardjan dan Soelaiman Soemardi SH. MA, menyatakan bahwa selama di dalam masyarakat pasti mempunyai sesuatu yang dihargai oleh nya dan setiap masyarakat pasti mempunyai sesuatu yang dihargai.
Vilfredo Pareto, menyatakan bahwa ada dua kelas yang senantiasa berbeda setiap waktu, yaitu Golongan Elite dan Golongan Non Elite. Menurut dia pangkal dari pada perbedaan itu karena ada orang-orang yang memiliki kecapakan, watak, keahlian, dan kapasitas yang berbeda-beda.


Pengertian Kesamaan Derajat
Sifat perhubungan antara manusia dan lingkungan masyarakat pada umumnya adalah timbal balik,  artinya orang seorang itu sebagai anggota masyarakat, mempunyai hak dan kewajiban, baik terhadap masyarakat maupun terhadap pemerintah dan negara. Beberapa hak dan kewajiban asasi. Untuk dapat melaksanakan hak dan kewajiban ini dengan bebas dari rasa takut perlu adanya jaminan, dan yang mampu memberi jaminan ini adalah pemerintah yang kuat dan berwibawa.

Didalam susunan negara modern hak-hak dan kebebasan-kebebasan asasi manusia itu dilindungi oleh Undang-undang dan menjadi hukum positif. Undang-undang tersebut berlaku saran pada setiap orang tanpa kecualinya dalam arti semua orang mempunyai kesamaan derajat dan ini dijamin oleh undang-undang. Kesamaan derajat ini terwujud dalam jaminan hak yang diberikan dalam berbagai sektor kehidupan. Hak inilah yang banyak dikenal dengan Hak Asasi Manusia.

Pasal-Pasal dalam UUD 1945 dan Pokok-Pokok Tentang Persamaan Hak
Pasal-pasal UUD 1945 tentang Persamaan Hak :
Pembukaan dan batang tubuh UUD 1945

     1. Pembukaan UUD 1945

Hak asasi manusia tercantum dalam pembukaan UUD 1945 :

Alenia I : "Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan prikeadilan."
Alenia IV : "Pemerintah Negara Republik Indonesia yang melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan Bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia, yang berdasarkan kemerdekaan perdamaian abadi dan keadilan sosial."

       2. Batang Tubuh UUD 1945

Secara garis besar, hak-hak asasi manusia tercantum dalam pasal 27 sampai 34 dapat di kelompokan menjadi :

    Hak dalam Bidang Politik (pasal 27 (1) dan 28)
    Hak dalam Bidang Ekonomi (pasal 27 (2), 33, 34)
    Hak dalam Bidang Sosial Budaya (pasal 29, 31, 32)
    Hak dalam Bidang Hankam (pasal 27 (3) dan 30).

Berdasarkan amandemen UUD 1945, hak asasi manusia tercantum dalam Bab X A Pasal 28 A sampai dengan 28 J.

Pengertian Elite dan Massa
Dalam masyarakat tertentu ada sebagian penduduk ikut terlibat dalam kepemimpinan, sebaliknya dalam masyarakat tertentu penduduk tidak diikut sertakan.Dalam pengertian umum Elite menunjukan sekelompok orang yang dalam masyarakat menempati kedudukan tinggi. Dalam arti lebih khusus lagi Elite adalah sekelompok orang terkemuka dibidang-bidang tertentu dan khususnya golongan kecil yang memegang kekuasaan.

Istilah Massa dipergunakan untuk menunjukkan suatu pengelompokan kolektif lain yang elementer dan spotnan, yang dalam beberapa hal menyerupai crowd, tetapi yang secara fundamental berbeda dengan adanya hal-hal yang lain. Massa diwakili oleh orang-orang yang berperanserta dalam perilaku misalnya seperti mereka yang terbangkitkan minatnya oleh beberapa peristiwa nasional, mereka yang menyebar diberbagai tempat, mereka yang tertarik pada suatu peristiwa pembunuhan sebagai dibertakan dalam pers atau mereka yang berperanserta dalam suatu migrasi dalam arti luas.

Fungsi Elite Dalam Memegang Strategi

Pembedaan Elite dalam memegang strategi secara garis besar adalah :
  • Elite Politik (Elite yang berkuasa dalam mencapai tujuan).
  • Elite Ekonomi, Militer, Diplomatik, dan Cendekiawan (mereka yang berkuasa atau mempunyai pengaruh dalam bidang itu).
  • Elite Agama, Filsuf, Pendidikan, dan Pemuka Masyarakat.
  • Elite yang dapat memberikan kebutuhan Psikologis, seperti : Artis, Penulis, Tokoh film, Olahragawan dan tokoh hiburan dan sebagainya.
  • Elite dari segala elite dapatlah menjalankan fungsinya dengan mengajak para elite pemegang strategi di tiap bidangnya untuk bekerja sebaik-baiknya. Kecuali itu dimanapun juga para elite pemegang strategi tersebut memiliki prinsip yang sama dalam menjalankan fungsi pokok maupun fungsi yang lainnya, seperti memberikan contoh tingkah laku yang baik kepada masyarakat, mengkoordinir serta menciptakan yang harmonis dalam berbagai kegiatan, fungsi pertahanan dan keamanan, meredakan konflik sosial maupun fisik dan dapat melindungi masyarakat terhadap bahaya dari luar.
Ciri-ciri Massa
Keanggotaan berasal dari semua lapisan masyarakat atau strata sosial, meliputi :
  • Orang-orang dari berbagai posisi kelas yang berbeda, dari jabatan kecakapan, tingkat kemakmuran atau kebudayaan yang berbeda-beda. Orang bisa mengenali mereka sebagai masa misalnya orang-orang yang sedang mengikuti peradilan tentang pembunuhan misalnya melalui pers.
  • Massa merupakan kelompok yang Anonym, atau lebih tepat, tersusun dari individu-individu yang anonim. Sedikit interaksi atau bertukar pengalaman antar anggota-anggotanya.

PENGERTIAN MASYARAKAT PEDESAAN DAN MASYARAKAT PERKOTAAN

Pengertian Masyarakat
     Masyarakat dalam arti luas merupakan keseluruhan hubungan-hubungan dalam hidup bersama dan tidak di batasi oleh lingkungan, bangsa dan sebagainya. Masyarakat dalam arti sempit yaitu sekelompok manusia yang dibatasi oleh aspek-aspek tertentu misalnya teritorial, bangsa, golongan, dsb.
     Dari definisi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa masyarakat harus mempunyai syarat-syarat seperti :
  1. Harus ada pengumpulan manusia
  2. Telah bertempat tinggal dalam waktu lama disuatu daerah tertentu
  3. Adanya aturan atau undang-undang yang mengatur mereka untuk menuju kepada kepentingan dan tujuan bersama
     Dipandang dari cara terbentuknya, masyarakat dapat dibagi dalam :
  1. Masyarakat Paksaan, seperti : Negara, tawanan
  2. Masyarakat Merdeka
  3. Masyarakat Natur, masyarakat yang terjadi dengan sendirinya seperti gerombolan (horde), suku (stam) yang bertalian karena hubungan darah
  4. Masyarakat Kultur, masyarakat yang terjadi karena kepentingan keduniaan atau kepercayaan, contoh koperasi, kongsi perekonomian, gereja, dsb.
 
Pengertian Masyarakat Perkotaan
     Masyarakat perkotaan sering disebut juga sebagai urban community. Pengertian masyarakat kota lebih ditekankan pada sifat-sifat kehidupan serta ciri-ciri kehidupan yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Ada beberapa ciri yang menonjol pada masyarakat kota, yaitu :
  1. Kehidupan keagamaan kurang apabila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di pedesaan
  2. Pada umumnya, orang kota mengurus dirinya sendiri tanpa bergantung pada orang lain
  3. Kehidupan keluarga dikota sukar untuk disatukan karena perbedaan kepentingan, agama, paham politik, dsb
  4. Pembagian kerja dalam masyarakat kota jauh lebih tegas dan mempunyai batas-batas nyata
  5. Kemungkinan mendapatkan pekerjaan lebih banyak diperoleh
  6. Jalan pikiran yang rasional, menyebabkan interaksi yang terjadi lebih didasarkan pada kepentingan dari pada faktor pribadi
  7. Jalan kehidupan yang cepat di kota menyebabkan pentingnya faktor waktu bagi warga kota
  8. Perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata sebab kota lebih terbuka dalam menerima pengaruh dari luar.
Perbedaan Desa dengan Kota
     Dalam menentukan suatu masyarakat sebagai kota atau desa dapat dilihat dari ciri-cirinya, seperti :
  1. Jumlah kepadatan penduduk, kota memiliki penduduk y ang lebih banyak dari pada desa
  2. Lingkungan hidup dipedesaan terasa lebih dekat dengan alam bebas, lingkungan perkotaan sebagian besar dilapisi beton dan aspal
  3. Mata pencaharian masyarakat desa berada pada sektor ekonomi primer yaitu bidang agraris, sedangkan kota sektor ekonomi sekunder yaitu industri dan ekonomi tersier yaitu bidang pelayanan jasa
  4. Corak kehidupan sosial di desa masih homogen, sebaliknya di kota sangat heterogen karena di sana saling bertemu suku bangsa, agama, kelompok dan masing-masing memiliki kepentingan berlainan
  5. Stratifikasi sosial di kota jauh lebih komplek dibanding desa.
Hubungan Desa dan Kota
     Masyarakat pedesaan dan perkotaan bukanlah dua komunitas yang terpisah sama sekali, karena terdapat hubungan erat yang bersifat ketergantungan. Kota tergantung dengan desa dalam memenuhi kebutuhan warganya akan bahan-bahan pangan dan desa juga merupakan sumber tenaga kasar bagi jenis-jenis pekerjaan tertentu di kota. 
     Sebaliknya, kota menghasilkan barang-barang yang diperlukan oleh orang desa seperti pakaian, alat, dan obat pembasmi hama pertanian, obat untuk memelihara kesehatan, alat transportasi, tenaga-tenaga dibidang jasa.
 
Aspek Positif dan Negatif
     Untuk menunjang aktivitas serta memberikan suasana aman, tentram, nyaman bagi warganya, kota diharuskan menyediakan fasilitas kehidupan dan mengatasi berbagai masalah yang timbul sebagai akibat warganya.
     Suatu lingkungan perkotaan seyogyanya mengandung 5 unsur yang meliputi :
  1. Memenuhi kebutuhan penduduk akan fasilitas hiburan, rekreasi, pertamanan, kebudayaan dan kesenian
  2. Penyempurnaan yaitu merupakan bagian penting bagi kota, termasuk fasilitas keagamaan, perkuburan kota, fasilitas pendidikan dan kesehatan, jaringan utilitas/keperluan umum
  3. Wisma, mengembangkan daerah perumahan sesuai dengan pertambahan penduduk serta memperbaiki lingkungan perumahan yang telah ada
  4. Karya, penyediaan lapangan kerja. Dapat dilakukan dengan penyediaan ruang untuk kegiatan perindustrian, perdagangan, pelabuhan, terminal serta kegiatan lain
  5. Marga, Unsur ini merupakan ruang perkotaan yang berfungsi untuk menyelenggarakan hubungan antara suatu tempat dengan tempat lain dalam kota atau dengan kota-kota daerah lainnya. Dalam unsur ini termasuk :
  • Pengembangan jaringan jalan dan fasilitasnya (terminal, parkir, dll)
  • Pengembangan jaringan telekomunikasi sebagai bagian dari sistem transportasi dan komunikasi data.
     Kelima unsur pokok ini merupakan pola pokok dari komponen-komponen perkotaan yang kuantitasnya dan kualitas nya kemudian di rinci dalam perencanaan suatu kota. Kebijaksanaan perencanaan dan pengembangan kota harus dapat dalam kerangka pendekatan yang luas yaitu pendekatan regional. Rumusan pengembangan kota seperti itu tergambar dalam pendekatan penanganan masalah kota sebagai berikut :
  1. Menekan angka kelahiran
  2. Mengalihkan pusar pembangunan pabrik atau industri ke pinggir kota
  3. Membendung urbanisasi
  4. Membangun kota satelit
  5. Meningkatkan fungsi dan peranan kota-kota kecil atau desa-desa yang telah ada disekitar kota besar
  6. Transmigrasi bagi warga yang miskin dan tidak mempunyai pekerjaan.
 Masyarakat Pedesaan
     Menurut Sutarjo Kartohadikusuma adalah satu kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat pemerintahan sendiri. Menurut Bintarto, desa merupakan perwujudan kesatuan geografi, sosial, ekonomi, politik dan cultural yang terdapat di suatu daerah dalam hubungan dan pengaruhnya secara timbal balik dengan daerah lain.
     Secara umum, yang menjadi ciri-ciri masyarakat pedesaan antara lain :
  1. Antara warga mempunyai hubungan mendalam dan erat bila dibandingkan dengan masyarakat di luar batas-batas wilayahnya
  2. Sistem kehidupan umumnya berkelompok dengan dasar kekeluargaan (Gemeinscharft atau paguyuban)
  3. Sebagian warga masyarakat pedesaan hidup dari pertanian, pekerjaan yang bukan pertanian merupakan pekerjaan part time sebagai pengisi waktu luang
  4. Masyarakat homogen seperti dalam mata pencaharian, agama, adat istiadat, dsb.
Kegiatan pada Masyarakat Pedesaan
     Masyarakat pedesaan mempunyai penilaian  yang tinggi terhadap mereka yang dapat bekerja keras tanpa bantuan orang lain. Jadi, masyarakat pedesaan bukan masyarakat yang senang diam tanpa aktivitas. Pada umumnya, masyarakat desa sudah bekerja dengan keras tetapi para ahli lebih memberikan perangsang yang dapat menarik aktivitas masyarakat pedesaan, dan menjaga agar cara dan irama bekerja bisa efektif dan efisien serta kontinyu (diusahakan mengisi waktu-waktu kosong bekerja karena keadaan musim/iklim di Indonesia).
 
Sifat dan Hakikat Masyarakat Pedesaan
     Masyarakat desa yang agraris di pandang sebagai masyarakat yang tenang, hal itu terjadi karena sifat keguyuban/gemeinscharft sehingga oleh seorang kota di anggap sebagai tempat untuk melepaskan lelah.
    Tetapi dalam masyarakat desa terdapat pula perbedaan pendapat atau paham yang menyebabkan ketegangan sosial, yaitu :
  1. Konflik/Pertengkaran, pertengkaran biasanya berkisar masalah sehari-hari atau rumah tangga juga pada masalah kedudukan dan gengsi
  2. Kontroversi/Pertandingan, disebabkan oleh perubahan konsep-konsep kebudayaan atau adat istiadat, psikologi atau dalam hubungannya dengan guna-guna atau black magic
  3. Kompetisi/Persaingan, dapat bersifat positif maupun negatif. Positif apabila wujudnya saling meningkatkan prestasi dan produksi, negatif bila berhenti pada sifat iri.
Sistem Budaya Petani Indonesia
     Sistem nilai budaya petani Indonesia antara lain sebagai berikut :
  1. Petani Indonesia terutama di Jawa menganggap kehidupan adalah hal yang buruk dan kesengsaraan sehingga mereka berlaku prihatin dan berusaha ikhtiar
  2. Mereka beranggapan bahwa orang bekerja untuk hidup dan kadang-kadang mencapai kedudukan
  3. Mereka beorientasi pada masa sekarang, kurang memperdulikan masa depan
  4. Mereka menganggap alam tidak menakutkan, bila ada bencana hanya merupakan sesuatu yang wajib diterima.
  5. Untuk menghadapi alam mereka cukup dengan bergotong-royong. Mereka sadar bahwa dalam hidup meraka hakikatnya tergantung pada sesama.
Perbedaan Masyarakat Pedesaan dan Masyarakat Perkotaan
     Masyarakat pedesaan kehidupannya berbeda dengan masyarakat perkotaan. Perbedaan-perbedaan ini disebabkan adanya perbedaan yang mendasar dari keadaan lingkungan, yang mengakibatkan adanya dampak terhadapat personalitas dan segi-segi kehidupan. Untuk menjelaskan perbedaan atau ciri dari kedua masyarakat tersebut dapat ditelusuri dalam hal sebagai berikut :
  1. Lingkungan Umum dan Orientasi Terhadap Alam, masyarakat pedesaan berhubungan kuat dengan alam, disebabkan oleh lokasi geografisnya di daerah desa. Mereka sulit "Mengontrol" kenyataan alam yang di hadapinya, padahal bagi petani tealitas alam ini sangat vital dalam menunjang kehidupannya
  2. Pekerjaan atau Mata Pencaharian, pada umumnya mata pencaharian daerah pedesaan adalah bertani. Mata pencaharian berdagang merupakan mata pencaharian sekunder. Sedangkan di masyarakat kota mata pencaharian cenderung menjadi terspesialis dan spesialisasi itu sendiri dapat di kembangkan
  3. Ukuran Komunitas, komunitas pedesaan biasanya lebih kecil dari komunitas perkotaan
  4. Kepadatan Penduduk, penduduk desa kepadatannya lebih rendah dibandingkan dengan kepadatan penduduk perkotaan
  5. Homogenitas dan Heterogenitas, homogenitas atau persamaan dalam ciri-ciri sosial dan psikologis, bahasa, kepercayaan, adat istiadat, dan perilaku sering nampak pada masyarakat pedesaan bila dibandingkan dengan masyarakat perkotaan
  6. Deferensiasi Sosial, Keadaan heterogen dari penduduk kota berindikasi pentingnya derajat yang tinggi di dalam diferensiasi sosial. Kenyataan ini bertentangan dengan bagian-bagian kehidupan di masyarakat pedesaan
  7. Pelapisan Sosial, ada beberapa perbedaan "Pelapisan Sosial Tak Resmi" antara masyarakat kota dengan desa, contoh nya : Pada masyarakat desa, kesenjangan (gap) antara kelas eksterm dalam piramida sosial tidak terlalu besar, sedangkan pada masyarakat kota antara kelas eksterm yang kaya dan miskin cukup besar
  8. Mobilitas Sosial, mobilitas sosial berkaitan dengan perpindahan atau pergerakan suatu kelompok sosial ke kelompok sosial lainnya, terjadinya peristiwa mobilitas sosial demikian disebabkan oleh penduduk kota yang heterogen.
  9. Interaksi Sosial, tipe interaksi sosial di kota dengan desa perbedaan nya sangat kontras, baik aspek kualitasnya maupun kuantitasnya 
  10. Pengawasan Sosial, tekanan sosial oleh masyarakat di pedesaan lebih kuat karena kontrak nya yang bersifat pribadi dan ramah tamah (informal). Di kota pengawasan sosial lebih bersifat formal, pribadi, kurang "Terkena" aturan yang di tegakan.

PERTENTANGAN SOSIAL DAN INTEGRASI MASYARAKAT

Kepentingan
     Kepentingan merupakan dasar tingkah laku manusia untuk kebutuhan nya. Serta kepentingan juga sifatnya essential, maksut essential disini adalah jika manusia telah memenuhi kepentingannya maka ia akan merasa puas dengan sebaliknya.
      Oleh karena itu, tingkah laku merupakan kegiatan-kegiatan didalam masyarakat untuk merasa puas apa yang telah diselesaikan dari kepentingan itu sendiri. Kepentingan individu satu dengan yang lainnya tidaklah sama.
Apa saja perbedaan kepentingan itu, Diantaranya ialah :
  1. Kepentingan untuk memperoleh kasih sayang
  2. Kepentingan untuk memperoleh harga diri
  3. Kepentingan individu untuk memperoleh prestasi dan posisi
  4. Kepentingan individu untuk memperoleh penghargaan yang sama
  5. Kepentingan individu untuk dibutuhkan orang lain
  6. Kepentingan individu untuk memperoleh kedudukan dalam 1 kelompoknya
  7. Kepentingan individu untuk memperoleh rasa aman dan perlindungan diri
  8. Kepentingan individu untuk memperoleh kemerdekaan diri.
Perbedaan kepentingan itu sendiri dapat menyebabkan disorganisasi maupun disintegrasi yang menyebabkan masyarakat terbagi menjadi 2 kubu.
Pengertian Diskriminasi dan Ethnosentris
     Diskriminasi adalah suatu sikap yang merujuk menunjuk kaum yang lebih tinggi/tidak adil dalam pelaksanaannya. Sedangkan Ethnosentrisme/ethnosentris adalah sikap menilai unsur-unsur kebudayaan lain dengan kebudayaan sendiri dengan kata lain merupakan sikap yang menganggap cara hidup bangsanya sebagai cara hidup yang baik ataupun sebalik nya.
Pertentangan dan Ketegangan dalam Masyarakat
     Pertentangan dalam hal ini di artikan sebagai konflik (suatu proses sosial antara dua orang atau lebih yang berusaha menyingkirkan pihak lain dengan cara menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya).
Faktor penyebab konflik sosial menurut soerjono soekanto, ialah :
  1. Perbedaan individu karena perasaan, pendirian, dan pendapat
  2. Bentrokan kepentingan baik ekonomi maupun politik
  3. Perubahan sosial dalam masyarakat.
Dampak yang ditimbulkan akibat konflik sosial, diantaranya :
  1. Memunculkan suatu kompromi baru apabila pihak yang berkonflik berada dalam kekuatan yang seimbang (positif)
  2. Perubahan kepribadian para individu (negatif)
  3. Sebagai sarana untuk mencapai titik keseimbangan antara kekuatan-kekuatan yang ada di dalam masyarakat (positif)
  4. Keretakan hubungan antar individu maupun kelompok
  5. Integrasi sosial dan nasional.
Pengertian Integrasi Sosial dan Nasional
     Integrasi sosial adaalah proses penyesuaian unsur-unsur yang berbeda dalam masyarakat sehingga menjadi satu kesatuan.
     Pembicaraan mengenai integrasi sosial menunjuk pada tiga tingkat masyarakat yang meliputi :
  1. Tingkat Mikro (keluarga)
  2. Meso (kelompok sosial)
  3. Makro (masyarakat bangsa)
Faktor-faktor penentu Integrasi Sosial, diantaranya :
  1. Homogenitas kelompok
  2. Besar kecil nya kelompok
  3. Mobilitas geografis
  4. Efektivitas komunikasi
Faktor-faktor pendorong Integrasi Sosial, diantaranya :
  1. Faktor Internal, berupa : Kesadaran diri sebagai makhluk sosial, tuntutan kebutuhan, jiwa dan semangat gotong-royong.
  2. Faktor Eksternal, berupa : Tuntutan perkembangan zaman, persamaan kebudayaan, terbuka nya kesempatan.
Pengertian Integrasi Nasional
     Integrasi Nasional dijelaskan di atas berada tingkat yang paling atas yaitu makro (masyarakat bangsa).
     Menurut Hendropuspito, Integrasi Nasional atau Integrasisosial makro yaitu suatu kondisi kesatuan hidup bersama dari aneka satuan sistem sosial budaya, kelompok-kelompok etnis dan kemasyarakatan untuk berinteraksi dan bekerja sama berdasarkan nilai-nilai dan norma-norma dasar bersama guna mewujudkan fungsi sosial budaya yang lebih maju tanpa mengorbankan ciri-ciri kebhinekaan yang ada.
 
 

ILMU PENGETAHUAN TEKNOLOGI DAN KEMISKINAN

 Pengertian Ilmu Pengetahuan
     Ilmu Pengetahuan adalah pengetahuan yang didasarkan atas fakta-fakta dimana kebenarannya di atur menurut suatu tingkah laku sistem.
     Untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan terdapat 4 hal sikap ilmiah, yaitu :
  1. Jujur
  2. Teliti
  3. Objektif
  4. Tekun
Pengertian Teknologi
     Teknologi adalah penggunaan pengetahuan ilmiah untuk meningkatkan cara melakukan suatu aktivitas.
     Ciri-ciri fenomena teknik, yaitu:
  1. Rasionalisme, yaitu : Teknik tindakan spontan yang di ubah menjadi teknik yang di rencanakan dengan perhitungan yang rasional
  2. Artifisialitas, yaitu : Selalu membuat sesuatu yang buatan tidak alamiah
  3. Otomatisme, yaitu : Teknik yang mampu mengeliminasikan kegiatan non teknis menjadi teknis
  4. Monisme, yaitu : Saling berinteraksi dan saling bergantung
  5. Universalisme, yaitu : Teknik melampaui batas-batas kebudayaan dan ideologi, bahkan dapat menguasai kebudayaan.
  6. Otonomi, yaitu : Teknik berkembang menurut prinsip-prinsip sendiri.
Ciri-ciri teknologi barat :
  1. Selalu bergantung pada sifat ketegantungan
  2. Bersifat intensif bagi kegiatan manusia
  3. Selalu berpikir bahwa barat adalah pusat teknologi
  4. Berkembang mengikuti alur zaman.
Pengertian Nilai
     Nilai adalah makna, isi, satuan/harga yang tersurat maupun tersirat dalam fakta dan teori menjadi fungsional.
Pengertian Kemiskinan
     Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan pokoknya maupun sekunder dan tersier.
     Ciri-ciri manusia dibawah hidup garis kemiskinan:
  1. Tingkat pendidikan rendah
  2. Tidak memiliki modal yang banyak.harta (kekayaan) yang berlimpah
  3. Tidak punya keterampilan
  4. Dikota banyak dipekerjakan sebagai tenaga kerja kasar.
Fungsi kemiskinan :
  1. Menyediakan tenaga kerja untuk pekerjaan-pekerjaan kantor/tak terhormat sehingga dibayar murah
  2. Memperpanjang nilai guna barang/jasa, contoh : barang rongsokan kipas angin yang dijual kepada orang yang tidak mampu
  3. Mensubsidi berbagai kegiatan ekonomi yang menguntungkan orang kaya, contoh : Petani beras yang dikampung di bayar murah serta tidak boleh memberikan harga terlalu tinggi, setelah beras itu sampai ke Jakarta, para orang kaya kota disubsidi yang menguntungkan baginya
  4. Kemiskinan menyediakan lapangan kerjaan, contoh : TKI, TKW, tukang kredit
  5. Memperteguh status sosial orang kaya, contoh : supir yang selalu membantu mengemudikan kendaraan majikan nya kemana ia pergi
  6. Bermanfaat jadi tumbal pembangunan, contoh : Pkl yang ditertibkan.
 

AGAMA DAN MASYARAKAT

Fungsi Agama dan Masyarakat
  1. Edukatif, agama memberikan dan pengajaran untuk menjadi lebih baik dari rohani dan jasmani melalu perantara kitab-kitabnya
  2. Fungsi Penyelamatan, bahwa setiap orang atau manusia ingin keselamatan baik di dunia maupun di akhirat dengan meminta doa kepada tuhannya agar diberi pengampunan
  3. Fungsi Pengawasan Sosial, salah satu fungsi dari pengawasan sosial agama adalah menjaga kaidah-kaidah yang ada dalam masyarakat dunia supaya moral tidak turun sesuai dengan perkembangan jaman
  4. Fungsi Memupuk Persaudaraan, ikatan persaudaraan seiman bukan hanya dia sendiri melainkan di libatkan semua untuk mencapai sesuatu yang tertinggi untuk di capainya (pahala dan surga)
  5. Fungsi Transformatif, mengubah bentuk suatu kehidupan baru dengan menanamkan nilai-nilai yang ada ataupun yang baru lebih bermanfaat.
     Agama sebagai petunjuk manusia untuk mengatasi diri dari ketidakberdayaannya dan agama di pandang sebagai mekanisme penyesuaian yang paling dasar terhadap unsur di atas. Masalah fungsi agama dapat dianalisa lebih mudak didalam komitmen agama.
 
Dimensi Komitmen Agama
Berikut dimensi komitmen agama menurut Rolland Robertson :
  1. Dimensi keyakinan mengandung perkiraan atau harapan bahwa orang yang religius akan menganut pandangan teologis tertentu
  2. Praktek agama mencakup perbuatan-perbuatan berbakti yaitu perbuatan untuk melaksanakan komitmen agama secara nyata
  3. Dimensi pengetahuan dikaitkan dengan perkiraan setiap seseorang tentang ajaran atau tradisi keagamaan mereka
  4. Dimensi konsekuensi dari komitmen religius berbeda dengan tingkah laku seseorang
  5. Dimensi pengalaman memperhitungkan fakta, bahwa semua agama mempunyai perkiraan tertentu.
3 Tipe Pelembagaan Agama di Masyarakat
     Menurut Elizabeth K Nottingham agama memiliki 3 tipe hubungan dengan masyarakat, diantaranya :
  1. Masyarakat pedalaman
  2. Masyarakat semi industri
  3. Masyarakat industri sekunder (modern).
Berikut lembaga-lembaga agama yang ada di Indonesia :
  1. Islam : Majelis Ulama Indonesia (MUI)
  2. Kristen : Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGO)
  3. Katolik : Konfrensi Wali Gereja Indonesia (KWI)
  4. Hindu : Parisada Hindu Dhama Indonesia (PARISADA)
  5. Buddha : Majelis Buddhayana Indonesia (MBI)
  6. Konghucu : Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (MATAKIN).
Contoh Konflik yang ada di dalam Agama dan Masyarakat
     Kita tahu bahwa Indonesia memiliki suku, ras, buadaya yang begitu banyak dan kita tahu juga bahwa setiap suku rentan terhadap konflik atau pertentangan sosial. Dari segi agama pun juga sama meskipun kita mayoritas islam tetapi rentan terhadap konflik.
Berikut pembahasan 7 konflik yang ada kaitan nya agama dan masyarakat, diantaranya :
  1. Konflik Poso
  2. 5 Gereja yang di bakar 10.000 massa di Situbondo
  3. Perbedaan pendapat kelompok seperti FPI dan Muhammadiyah
  4. Penetapan Hari Raya Idul Fitri oleh masing-masing kelompoknya dapat berbeda
  5. Pemberlakuan syariat Islam di NAD masih ada yang belum setuju
  6. Kasus ISIS yang beredar di Indonesia
  7. Konflik Ahmadiyah.
Sumber :
  • http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/mkdu_isd/bab6  
  • http://tugasug.blogspot.com/2011/12/tugas-isd-pelapisan-sosial-dan-kesamaan.html 
  • http://mohammadandika.wordpress.com/2010/11/08/isd-6/ 
  • http://nisaniii.blogspot.com/2010/11/isd-bab-6pelapisan-sosial-dan-kesamaan.html 
  • https://adytiawan.wordpress.com/2012/11/11/ilmu-sosial-dasar-pelapisan-sosial-dan-kesamaan-derajat/  
  • https://ediz11.wordpress.com/2011/11/19/ilmu-sosial-dasar-bab-vii/
  • http://abiyogaarinugroho.blogspot.com/2014/12/ 

Thursday, January 8, 2015

Tugas 3 Teori Organisasi Umum


Pengertian Konflik  

Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.Tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.  

Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. Perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. 

Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan Integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. Sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik. 


Jenis dan Sumber Konflik 

Menurut Dahrendorf, konflik dibedakan menjadi 6 macam : 

  • Konflik antara atau dalam peran sosial (intrapribadi), misalnya antara peranan-peranan dalam keluarga atau profesi (konflik peran (role)) 

  • Konflik antara kelompok-kelompok sosial (antar keluarga, antar gank) 

  • Konflik kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massa). 

  • Konflik antar satuan nasional (kampanye, perang saudara) 

  • Konflik antar atau tidak antar agama

  • Konflik antar politik.

  • Konflik individu dengan kelompok

     Beberapa Faktor Penyebab Konflik 

    • Perbedaan individu yang didasari oleh perbedaan pendirian dan perbedaan perasaan.

      Setiap manusia memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda, sehingga dalam menilai sesuatu tentu memiliki penilaian yang berbeda-beda. Misalnya masyarakat menilai kebijakan pemerintah mengenai menaikkan harga BBM karena harga bahan mentah naik. Tentu setiap masyarakat akan menilai dengan pemikirannya masing-masing yang mungkin secara umum terbagi menjadi kelompok yang pro dan kontra.

    •  Perbedaan kebudayaan sehingga membentuk pribadi yang berbeda 

      Orang dari kebudayaan berbeda, misalnya orang jawa dengan orang papua yang memiliki budaya berbeda, jelas akan membedakan pola pikir dan kepribadian yang berbeda pula. Jika hal ini tak ada suatu hal yang dapat mempersatukan, akan berakibat timbulnya konflik. 

    • Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok    

      Manusia merupakan mahkluk yang unik karena satu dengan yang lain relative berbeda. Berbeda pendirian, pemikiran, perilaku, kebiasaan, dsb. Dari perbedaan itu tentu timbul perbedaan kepentingan yang latar belakangnya juga berbeda. Misalnya mengenai masalah pemanfaatan hutan. Para pecinta alam menganggap hutan sebagai bagian dari lingkungan hidup manusia dan habitat dari flora dan fauna. Sedangkan bagi para petani hutan dapat menghambat tumbuhnya  jumlah areal persawahan atau perkebunan. Bagi para pengusaha kayu tentu ini menjadi komoditas yang menguntungkan. Dari kasus ini ada pihak – pihak yang memiliki kepentingan yang saling bertentangan, sehingga dapat berakibat timbulnya konflik. 

    • Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat 

      Perubahan merupakan suatu hal yang wajar didalam kehidupan bermasyarakat. Tetapi perubahan yang sangat cepat akan memicu timbulnya konflik. Misalnya masyarakat pedesaan yang secara umum matapencariannya bertani yang hidupnya bergotong-royong dengan jadwal waktu yang relative tidak mengikat, kemudian tumbuh suatu industry dengan waktu yang relative cepat dengan kebiasaan cenderung individualis, disiplin kerja dan waktu kerja ditentukan, yang secara umum mengubah nilai-nilai masyarakat desa tadi, tentu  akan menimbulkan konflik berupa penolakan diadakannya industry di wilayah itu.    

      Cara-Cara Mengatasi Konflik 

      Mengatasi konflik antara pihak-pihak yang bertikai tergantung pada kemauan pihak-pihak yang berkonflik untuk menyelesaikan masalah. Selain itu juga peran aktif dari pihak luar yang menginginkan redanya konflik. Berikut adalah cara-cara untuk mengatasi konflik yang telah terjadi : 

      1. Rujuk

        merupakan usaha pendekatan demi terjalinnya hubungan kerjasama yang lebih baik demi kepentingan bersama pula.

      2. Persuasi

        mengubah posisi pihak lain, dengan menunjukan kerugian yang mungkin timbul, dan bukti factual serta dengan menunjukkan bahwa usul kita menguntungkan dan konsisten dengan norma dan standar keadilan yang berlaku.

      3. Tawar-menawar

        Suatu penyelesaian yang dapat diterima oleh kedua belah pihak dengan mempertukarkan kesepakatan yang dapat diterima.

      4. Pemecahan masalah terpadu

        Usaha pemecahan masalah dengan memadukan kebutuhan kedua belah pihak. Proses pertukaran informasi, fakta, perasaan, dan kebutuhan berlangsung secara terbuka dan jujur. Menimbulkan rasa saling percaya dengan merumuskan alternative pemecahan secara bersama dengan keuntungan yang berimbang bagi kedua pihak.

      5. Penarikan diri

        Cara menyelesaikan masalah dengan cara salah satu pihak yang bertikai menarik diri dari hubungan dengan pihak lawan konflik. Penyelesaian ini sangat efisien bila pihak-pihak yang bertikai tidak ada hubungan. Bila pihak-pihak yang bertikai saling berhubungan dan melengkapi satu sama lain, tentu cara ini tidak dapat dilakukan untuk menyelesaikan konflik.

      6. Pemaksaan dan penekanan

        Cara menyelesaikan konflik dengan cara memaksa pihak lain untuk menyerah. Cara ini dapat dilakukan apabila pihak yang berkonflik memiliki wewenang  yang lebih tinggi dari pihak lainnya. Tetapi bila tidak begitu cara-cara seperti intimidasi, ancaman, dsb yang akan dilakukan dan tentu pihak yang lain akan mengalah secara terpaksa. 

Motivasi 

Motivasi adalah proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya. Tiga elemen utama dalam definisi ini diantaranya adalah intensitas, arah, dan ketekunan. 

Berdasarkan teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow, teori X dan Y Douglas McGregor maupun teori motivasi kontemporer, arti motivasi adalah alasan yang mendasari sebuah perbuatan yang dilakukan oleh seorang individu. Seseorang dikatakan memiliki motivasi tinggi dapat diartikan orang tersebut memiliki alasan yang sangat kuat untuk mencapai apa yang diinginkannya dengan mengerjakan pekerjaannya yang sekarang. Berbeda dengan motivasi dalam pengertian yang berkembang di masyarakat yang seringkali disamakan dengan semangat, seperti contoh dalam percakapan "saya ingin anak saya memiliki motivasi yang tinggi". Statemen ini bisa diartikan orang tua tersebut menginginkan anaknya memiliki semangat belajar yang tinggi. Maka, perlu dipahami bahwa ada perbedaan penggunaan istilah motivasi di masyarakat. Ada yang mengartikan motivasi sebagai sebuah alasan, dan ada juga yang mengartikan motivasi sama dengan semangat. 

Dalam hubungan antara motivasi dan intensitas, intensitas terkait dengan seberapa giat seseorang berusaha, tetapi intensitas tinggi tidak menghasilkan prestasi kerja yang memuaskan kecuali upaya tersebut dikaitkan dengan arah yang menguntungkan organisasi. Sebaliknya elemen yang terakhir, ketekunan, merupakan ukuran mengenai berapa lama seseorang dapat mempertahankan usahanya. 

Teori-teori Motivasi

a.      Teori Motivasi Maslow
Teori Maslow Maslow dalam Reksohadiprojo dan Handoko (1996), membagi kebutuhan manusia sebagai berikut: 

1.      Kebutuhan Fisiologis 
Kebutuhan fisiologis merupakan hirarki kebutuhan manusia yang paling dasar yang merupakan kebutuhan untuk dapat hidup seperti makan,minum, perumahan, oksigen, tidur dan sebagainya.
2.      Kebutuhan Rasa Aman 
Apabila kebutuhan fisiologis relatif sudah terpuaskan, maka muncul kebutuhan yang kedua yaitu kebutuhan akan rasa aman. Kebutuhan akan rasa aman ini meliputi keamanan akan perlindungan dari bahaya kecelakaan kerja, jaminan akan kelangsungan pekerjaannya dan jaminan akan hari tuanya pada saat mereka tidak lagi bekerja. 
3.      Kebutuhan Sosial 
Jika kebutuhan fisiologis dan rasa aman telah terpuaskan secara minimal, maka akan muncul kebutuhan sosial, yaitu kebutuhan untuk persahabatan, afiliasi dana interaksi yang lebih erat dengan orang lain. Dalam organisasi akan berkaitan dengan kebutuhan akan adanya kelompok kerja yang kompak, supervisi yang baik, rekreasi bersama dan sebagainya. 
4.      Kebutuhan Penghargaan 
Kebutuhan ini meliputi kebutuhan keinginan untuk dihormati, dihargai atas prestasi seseorang, pengakuan atas kemampuan dan keahlian seseorang serta efektifitas kerja seseorang. 
5.      Kebutuhan Aktualisasi diri 
Aktualisasi diri merupakan hirarki kebutuhan dari Maslow yang paling tinggi. Aktualisasi diri berkaitan dengan proses pengembangan potensi yang sesungguhnya dari seseorang. Kebutuhan untuk menunjukkan kemampuan, keahlian dan potensi yang dimiliki seseorang. Malahan kebutuhan akan aktualisasi diri ada kecenderungan potensinya yang meningkat karena orang mengaktualisasikan perilakunya. Seseorang yang didominasi oleh kebutuhan akan aktualisasi diri senang akan tugas-tugas yang menantang kemampuan dan keahliannya. 
Teori Maslow mengasumsikan bahwa orang berkuasa memenuhi kebutuhan yang lebih pokok (fisiologis) sebelum mengarahkan perilaku memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi (perwujudan diri). Kebutuhan yang lebih rendah harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum kebutuhan yang lebih tinggi seperti perwujudan diri mulai mengembalikan perilaku seseorang. Hal yang penting dalam pemikiran Maslow ini bahwa kebutuhan yang telah dipenuhi memberi motivasi. Apabila seseorang memutuskan bahwa ia menerima uang yang cukup untuk pekerjaan dari organisasi tempat ia bekerja, maka uang tidak mempunyai daya intensitasnya lagi. Jadi bila suatu kebutuhan mencapai puncaknya, kebutuhan itu akan berhenti menjadi motivasi utama dari perilaku. Kemudian kebutuhan kedua mendominasi, tetapi walaupun kebutuhan telah terpuaskan, kebutuhan itu masih mempengaruhi perilaku hanya intensitasnya yang lebih kecil. 
b.      Teori Motivasi Prestasi dari Mc. Clelland 
Konsep penting lain dari teori motivasi yang didasarkan dari kekuatan yang ada pada diri manusia adalah motivasi prestasi menurut Mc Clelland seseorang dianggap mempunyai apabila dia mempunyai keinginan berprestasi lebih baik daripada yang lain pada banyak situasi Mc. Clelland menguatkan pada tiga kebutuhan menurut Reksohadiprojo dan Handoko (1996 : 85) yaitu : 
1.      Kebutuhan prestasi tercermin dari keinginan mengambil tugas yang dapat dipertanggung jawabkan secara pribadi atas perbuatan-perbuatannya. Ia menentukan tujuan yang wajar dapat memperhitungkan resiko dan ia berusaha melakukan sesuatu secara kreatif dan inovatif. 
2.      Kebutuhan afiliasi, kebutuhan ini ditujukan dengan adanya bersahabat. 
3.      Kebutuhan kekuasaan, kebutuhan ini tercermin pada seseorang yang ingin mempunyai pengaruh atas orang lain, dia peka terhadap struktur pengaruh antar pribadi dan ia mencoba menguasai orang lain dengan mengatur perilakunya dan membuat orang lain terkesan kepadanya, serta selalu menjaga reputasi dan kedudukannya. 
c.       Teori X dan Y dari Mc. Gregor
Teori motivasi yang menggabungkan teori internal dan teori eksternal yang dikembangkan oleh Mc. Gregor. Ia telah merumuskan dua perbedaan dasar mengenai perilaku manusia. Kedua teori tersebut disebut teori X dan Y. Teori tradisional mengenai kehidupan organisasi banyak diarahkan dan dikendalikan atas dasar teori X. Adapun Handoko (1996 : 87 )
1.      Rata-rata pekerja itu malas, tidak suka bekerja dan kalau bisa akan menghidarinya. 
2.      Karena pada dasarnya tidak suka bekerja maka harus dipaksa dan dikendalikan, diperlakukan dengan hukuman dan diarahkan untuk pencapaian tujuan organisasi. 
3.      Rata-rata pekerja lebih senang dibimbing, berusaha menghindari tanggung jawab, mempunyai ambisi kecil, kemamuan dirinya diatas segalanya. 

Teori ini masih banyak digunakan oleh organisasi karena para manajer bahwa anggapn-anggapan itu benar dan banyak sifat-sifat yang diamati perilaku manusia, sesuai dengan anggapan tersebut teori ini tidak dapat menjawab seluruh pertanyaan yang terjadi pada orgaisasi. Oleh karena itu, Mc. Gregor menjawab dengan teori yang berdasarkan pada kenyataannya. 

Anggapan dasar teori Y adalah : 
1.      Usaha fisik dan mental yang dilakukan oleh manusia sama halnya bermain atau istirahat. 
2.      Rata-rata manusia bersedia belajar dalam kondisi yang layak, tidak hanya menerima tetapi mencari tanggung jawab. 
3.      Ada kemampuan yang besar dalam kecedikan, kualitas dan daya imajinasi untuk memecahkan masalah-masalah organisasi yang secara luas tersebar pada seluruh pegawai. 
4.      Pengendalian dari luar hukuman bukan satu-satunya cara untuk mengarahkan tercapainya tujuan organisasi. 
anggapan yang mendasari teori-teori X menurut Reksohadiprojo dan Teori Motivasi dari Herzberg
Teori motivasi yang dikemukakan oleh Herzberg dan kelompoknya. Teori ini sering disebut dengan M – H atau teori dua faktor, bagaimana manajer dapat mengendalikan faktor-faktor yang dapat menghasilkan kepuasan kerja atau ketidakpuasan kerja. Berdasarkan penelitian telah dikemukakan dua kelompok faktor yang mempengaruhi seseorang dalam organisasi, yaitu ”motivasi”. Disebut bahwa motivasi yang sesungguhnya sebagai faktor sumber kepuasan kerja adalah prestasi, promosi, penghargaan dan tanggung jawab. 
Kelompok faktor kedua adalah ”iklim baik” dibuktikan bukan sebagai sumber kepuasan kerja justru sebagai sumber ketidakpuasan kerja. Faktor ini adalah kondisi kerja, hubungan antar pribadi, teknik pengawasan dan gaji. Perbaikan faktor ini akan mengurangi ketidakpuasan kerja, tetapi tidak akan menimbulkan dorongan kerja. Faktor ”iklim baik” tidak akan menimbulkan motivasi, tetapi tidak adanya faktor ini akan menjadikan tidak berfungsinya faktor ”motivasi”. 
d.      Teori ERG Aldefer 
Teori Aldefer merupakan teori motivasi yang mengatakan bahwa individu mempunyai kebutuhan tiga hirarki yaitu : ekstensi (E), keterkaitan (Relatedness) (R), dan pertumbuhan (Growth) (G). 
Teori ERG juga mengungkapkan bahwa sebagai tambahan terhadap proses kemajuan pemuasan juga proses pengurangan keputusan. Yaitu, jika seseorang terus-menerus terhambat dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan menyebabkan individu tersebut mengarahkan pada upaya pengurangan karena menimbulkan usaha untuk memenuhi kebutuhan yang lebih rendah. 
Penjelasan tentang teori ERG Aldefer menyediakan sarana yang penting bagi manajer tentang perilaku. Jika diketahui bahwa tingkat kebutuhan yang lebih tinggi dari seseorang bawahan misalnya, pertumbuhan nampak terkendali, mungkin karena kebijaksanaan perusahaan, maka hal ini harus menjadi perhatian utama manajer untuk mencoba mengarahkan kembali upaya bawahan yang bersangkutan memenuhi kebutuhan akan keterkaitan atau kebutuhan eksistensi. Teori ERG Aldefer mengisyaratkan bahwa individu akan termotivasi untuk melakukan sesuatu guna memenuhi salah satu dari ketiga perangkat kebutuhan.