Friday, June 12, 2015

MASUKNYA WALISONGO DALAM MEMPENGARUHI BUDAYA DI NUSANTARA


Sebelum membahas tentang pengaruh walisongo dalam nusantara berikut ini saya bahas  terlebih dahulu sedikit tentang walisongo atau Sejarah dari Walisongo. 

Walisongo

Walisongo  diambil dari Bahasa jawa yang berati Sembilan Wali, mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Boning, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Gunung Jati. walisongo  dikenal sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke-17. Mereka tinggal di tiga wilayah penting pantai utara Pulau Jawa, yaitu Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, dan Cirebon di Jawa Barat. Kawasan ini adalah laluan perjalanan dari Surabaya ke Pati-Demak-Kudus-Malang-Surabaya. Walisongo adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Peranan mereka sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga mempengaruhi kebudayaan masyarakat serta dakwah di nusantara khusus nya daerah jawa.

Kesemua wali ini tidak hidup dalam waktu yang sama tetapi mereka mempunyai kaitan rapat seperti hubungan darah dan juga diantaranya adalah mempunyai hubungan guru dan murid. Maulana Malik Ibrahim adalah yang tertua. Beliau mempunyai anak yang dikenali sebagai Sunan Ampel. Sunan Giri pula adalah anak saudara Maulana Malik Ibrahim yang bererti juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah anak kepada Sunan Ampel. Sunan Kalijaga pula merupakan sahabat dan juga murid Sunan Bonang. Sunan Muria merupakan anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus juga murid kepada Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan-Sunan yang lain kecuali Maulana Malik Ibrahim yang terlebih dahulu meninggal dunia. Kesemua mereka tinggal di pantai utara Pulau Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16 iaitu di tiga wilayah penting (Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah serta Cirebon di Jawa Barat). 

Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada zamannya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru seperti dalam bentuk kesehatan, bercocok tanam, perniagaan, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan sehingga kepada pemerintahan. Pesantren Ampel Denta dan Giri adalah dua institusi pendidikan paling penting di masa itu. Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara. Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati bukan hanya ulama tetapi ia juga merupakan pemimpin pemerintahan. Sunan Giri, Bonang, Kalijaga, dan Kudus adalah penyumbang karya seni yang pengaruhnya masih terasa hingga ke hari ini. Sementara Sunan Muria adalah pemimpin agama yang sangat rapat dengan rakyat jelata. Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam.
Sekian penjelasan saya tentang Walisongo dan hubungan erat kesembilan wali. Selanjutnya saya akan bahas tentang pengaruh walisongo dalam budaya nusantara.

Pengaruh Walisongo dalam Budaya Nusantara

Berikut ini pengaruh masing-masing walisongo terhadap kebudayaan di Nusantara.

a. Syekh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik)
Syekh Maulana Malik Ibrahim bersal dari Turki, dia adalah seorang ahli tata negara yang ulung. Syekh Maulana Malik Ibrahim datang ke pulau Jawa pada tahun 1404 M. Beliau adalah seorang Walisongo yang dianggap sebagai ayah dari Walisongo. Beliau wafat di Gresik pada tahun 882 H/1419 M. Jauh sebelum beliau datang Islam sudah ada walaupun sedikit, ini dibuktikan dengan makam Fatimah binti Maimun yang nisannya bertuliskan tahun 1082 M.

Agama dan istiadat tidak langsung di tentang dengan frontal dan penuh kekerasan oleh agama Islam. Beliau mengenalkan kemuliaan dan ketinggian akhlak yang di ajarkan oleh agama Islam. Beliau langsung memberi contoh sendiri dalam bermasyarakat, tutur bahasanya sopan, lemah lembut, santun kepada fakir miskin, hormat kepada orang tua dan menyayangi kaum muda. Dengan cara itu ternyata sedikit demi sedikit banyak juga orang Jawa yang mulai tertarik pada agama Islam dan pada akhirnya mereka menganut agama Islam.

Sunan Gresik menjelaskan bahwa dalam Islam kedudukan semua orang adalah sama, hanya orang yang beriman dan bertaqwa yang kedudukannya tinggi disisi Allah SWT. berbeda dengan ajaran Hindu yang mengenal perbedaan kasta dalam bermasyarakat. Dan untuk mempersiapkan kader umat yang nantinya dapat menyebarkan Islam, beliau mendirikan pesantren yang merupakan perguruan Islam, tempat mendidik dan menggembleng para santri sebagai calon para mubalig. Syaikh Maulana Malik Ibrahim berdakwah di Gresik, beliau tidak hanya membimbing umat untuk mengenal dan mendalami agama Islam, tapi juga memberikan pengarahan agar tingkat kehidupan rakyat Gresik semakin meningkat. Beliau memiliki gagasan mengalirkan air dari gunung untuk mengairi sawah dan ladang.  

b. Raden Rahmat (Sunan Ampel)
Raden Rahmat Ali adalah cucu Raja Cempa, ayahnya bernama Ibrahim Asmara Kandi yang menikah dengan puteri Raja Cempa yang bernama Dewi Candra Wulan. Beliau lahir pada tahun 1400.  Raden Rahmat dalam usahanya menyebarkan agama Islam, beliau langsuung menuju Majapahit. Tetapi sebelum itu, Raden Rahmat singgah di Tuban dan berkenalan dengan dua tokoh masyarakat yaitu Ki Wiryo Sarojo dan Ki Bang Kuning, yang kemudian mereka beserta keluarganya masuk Islam. Dengan adanya kedua orang ini, Raden Rahmat semakin mudah mengadakan pendekatan kepada masyarakat sekitar. Beliau tidak langsung melarang masyarakat yang masih menganut adat istiadat lama, tapi beliau berdakwah sedikit demi sedikit mengajarkan tentang ketauhidan. Beliau menetap di Ampel Denta dan kemudian disebut dengan Sunan Ampel. Selanjutnya beliau mendirikan pesantren tempat putera bangsawan dan pangeran Majapahit, dan untuk siapa saja yang ingin berguru kepadanya. Sunan Ampel wafat pada tahun 1478M, dan dimakamkan di sebelah masjid Ampel. 

c. Raden Paku (Sunan Giri)
Beliau adalah putra dari Syekh Maulana Ishak. Nama kecil Sunan Giri adalah Jaka Samudra, ibunya bernama Sekardadu, putri Raja Blambangan, Prabu Minaksembuyu. Beliau lahir pada tahun sekitar 1443, dan wafat pada tahun 1506 M. Masa kecilnya diasuh oleh janda kaya raya  Nyai Gedhe Pinatih. Menjelang dewasa beliau berguru kepada Suana Ampel. Jaka Samudra diberi gelar oleh Sunan Ampel Raden Paku. Ketika Sunan Ampel ketua para wali wafat Sunan Giri diangkat menjadi penggantinya. Atas usulan sunan Kalijaga, ia diberi gelar Prabu Satmata. Diriwayatkan, pemberian gelar itu jatuh pada tanggal 9 Maret 1487 yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi kota Gresik. Dakwah Islam sunan Giri menggunakan jalur politik dan budaya, Sunan Giri menciptakan:
  1. Permainan jetungan 
  2. Jamuran 
  3. Gula ganti 
  4. Cublak-cublak suweng 
  5. Tembang asmarandhana 
  6. Tembang pocung 
d. Raden MakdumIbrahim (Sunan Bonang) 
Nama aslinya adalah Raden Makdum Ibrahim, beliau putra Sunan Ampel. Beliau diperkirakan lahir pada tahun 1440 di Mbonang, dan wafat pada tahun 1525. Sunan Bonang terkenal sebagai ahli Ilmu Kalam dan Tauhid. Sekembali dari Persia untuk berguru kepada Syekh Maulana Ishak ke tanah Jawa, beliau berdakwah di daerah Tuban. Caranya berdakwah cukup unik dan bijaksana, beliau menciptakan gending yang disebut bonang, sehingga rakyat Tuban dapat tersentuh hatinya untuk masuk masjid. Beliau membunyikan bonang, rakyat yang mendengarnya seperti terhipnotis terus melangkah ke masjid karena ingin mendengar langsung dari dekat. Dengan cara ini sedikit demi sedikit dapat merebut simpati rakyat, lalu baru menanamkan pengertian sebenarnya tentang Islam. 

e. Raden Qasim (Sunan Drajat)
Sunan Drajat adalah anak bungsu Sunan Ampel dengan  Dewi Condrowati atau yang sering disebut sebagai Nyi Ageng Manila. Beliau lahir pada tahun 1450. Nama lain dari Sunan Drajat yang terkenal adalah Raden Qasim. Di desa Jelak, Raden Qasim mendirikan surau dan pesantren. Banyak orang yang datang untuk berguru agama Islam kepadanya sehingga Jelak semakin ramai dan berkembang menjadi kampung besar. Oleh karena itu nama Jelak kemudian dirubah menjadi Banjaranyar. Beliau memperkenalkan Islam melalui konsep dakwah  bil-hikam, dengan cara-cara bijak dan tanpa memaksa. Dalam penyampaiannya beliau menempuh lima cara. Pertama lewat pengajian secara langsung dimasjid atau di langgar. Kedua melalui pendidikan di pesantren. Ketiga memberi fatwa atau petuah dalam menyelesaikan masalah. Keempat melalui kesenian tradisional dan yang kelima menyampaikan ajaran agama melalui ritual adat tradisional sepanjang tidak bertentangan dengan agama islam.

Sunan Drajat juga berdakwah dengan menggunakan kesenian Jawa yang pada waktu itu sudah mendarah daging dikalangan masyarakat. Salah satu tembang ciptaan beliau adalahtembang Mijil. Sunan Drajat juga terkenal dengan ajaran yang mengatakan paring teken marang kang kalunyon lan wuto, paring pangan marang kang kaliren, paring sandhang marang kang kudanan (memberi tongkat kepada orang buta, memberi makan kepada orangyang kelaparan, memberi pakaian kepada yang tidak punya pakaian dan memberi payung kepada orang yang kehujanan). Ini memang inti ajaran sosial di dalam Islam yang akan tetap relevan sampai kapanpun. Pada masa akhir Majapahit terjadi krisis sosial, ekonomi, politik. Sunan Drajat menjadi juru bicara yang membela rakyat tertindas. Beliau mengecam tindakan elit politik yang waktu itu hanya mengejar kekuasaan demi kenikmatan pribadi. Dalam bidang sastra budaya beliau menciptakan:
  1. Berpartisipasi dalam pembangunan masjid Demak 
  2. Membantu Raden Patah 
  3. Tembang Pangkur. 
f. Raden Sahid (Sunan Kalijaga) 
Nama aslinya adalah Raden Sahid, putera dari Raden Sahur putera Temanggung Wilatikta Adipati Tuban. Beliau lahir pada tahun 1400.  Raden Sahid sebenarnya anak muda yang patuh dan taat terhadap agama dan orang tua, tetapi beliau tidak bisa menerima keadaan sekelilingnya yang banyak terjadi ketimpangan. Hingga akhirnya beliau mencari makanan dari gudang kadipaten dan dibagikan kepada rakyatnya. Akibat hal tersebut, Raden Sahid dicambuk dan diusir oleh ayahnya. Dalam pengembaraannya, beliau bertemu dengan seorang berjubah putih, beliau adalah Sunan Bonang. Lalu Raden Sahid diangkat menjadi murid, dan diberi amanat untuk menunggui tongkat di depan kali sampai tanpa disadari tubuh Raden Sahid berlumut.  Dari hal ini, maka beliau dikenal dengan Sunan Kalijaga.

Sunan Kalijaga adalah salah satu diantara sederetan para wali yang dianggap paling kreatif dalam menerapkan ajaran keIslaman dengan konteks lokal. Seni pewayangan yang semula kental dengan warna Hinduisme-India, disulap menjadi sebuah pertunjukan yang bernuansa Islami. Sunan Kalijaga juga piawai dalam meramu kesenian lokal, sehingga menjadi sebuah hiburan yang mengasyikkan bagi masyarakat kala itu. Momen tersebut dimanfaatkan Sunan Kalijaga untuk menyampaikan wejangan-wejangan keIslaman, terutama yang bernuansa tasawuf. 

g. Ja’far Shodiq (Sunan Kudus)
Nama asli beliau adalah Ja’far Shodiq, putera Sunan Ngudung (Raden Ngusman Aji bin Raja Pandita bin Ibrahim Asmarakandi bin Maulana Muhammad Jumadil Kubro bin Zainul Alim bin Zainal Abidin bin Sayid Husein bin Ali, suami Fatimah binti Rasulullah SAW) dari Jipang Panolan. Beliau lahir pada abad 15 M atau 9 H. Dan diperkirakan wafat pada tahun 1520an. Kakek Sunan Kudus adalah saudara Sunan Ampel. Meskipun namanya Sunan Kudus beliau bukanlah asli Kudus. Dia datang dari Demak.

Sunan Kudus adalah seorang tokoh yang kuat, serta gagah berani. Karena keberaniannya yang luar biasa serta kedudukannya sebagai panglima perang. Setelah pengikutnya semakin banyak Sunan Kudus mendirikan masjid sebagai tempat ibadah dan pusat penyebaran agama. Masjid yang dibangunnya adalah Masjid Menara Kudus. Tidak ada kepastian kapan menara Kudus didirikan. Hanya saja tiap-tiap atap menara tersebut terdapat sengkalan yang berbunyi gapura rusak ewahing jagad yang berarti tahun 1606 jawa atau 1685 M (gapura=6,  rusak=0,  ewahing=6,  jagad=1). Sengkalan tersebut hanya menunjukkan bahwa ketika itu terjadi perbaikan atap yang mulai rusak. Jadi bangunan itu kira-kira didirikan beberapa puluh tahun sebelumnya. Bangunannya bercorak bangunan Hindu, berbentuk mirip Candi Jago, makam raja wisnuwardhana yang didirikan tahun 1275-1300 M di dekat Malang.
Sunan Kudus menciptakan karya satra dan budaya:
  1. Tembang Maskumambang 
  2. Tembang MijilMasjid
  3. Menara Kudus  
Sunan Kudus terkenal dengan seribu satu kesaktiannya. Beliau dapat berbuat sesuatu di luar kesanggupan otak dan tenaga manusia biasa. Contohnya pada suatu ketika Sunan Kudus memakan lele, kemudian sesudah tinggal kepala serta tulangnya, dibuanglah oleh sunan ke dalam sebuah sumur, maka ikan yang tinggal kepala dan tulang itupun hidup. 
 
h. Raden Umar Said (Sunan Muria) 
Sunan Muria adalah putera pertama Sunan Kalijaga dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishak. Nama asli beliau adalah Raden Umar Said, sedang nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Dalam berdakwah, Sunan Muria meniru cara yang telah dilakukan dengan sukses oleh ayahandanya, yaitu menggunakan alat musik Jawa (gamelan). Sasaran yang digarap oleh Sunan Muria adalah masyarakat yang bertempat tinggal di pedesaan, jauh dari pusat pemerintahan maupun kota. Oleh karena itu, Sunan Muria membangun pesantren di lereng gunung Muria, dan karena itulah gelar Sunan Muria diberikan oleh masyarakat. 

i. Syarif Hidayatullah (Sunan Gunungjati)
Nama aslinya adalah Syarif Hidayatullah, beliau lahir di Makkah. Banyak versi yang menceritakan tentang keberadaan Sunan Gunungjati ini, tetapi cerita yang termasyhur adalah menikahnya Sunan Gunungjati dengan seorang puteri Cina bernama Ong Tien, yang kemudian namanya diganti dengan Nyai Ratu Rara Semanding. Syarif Hidayatullah memang mempunyai hubungan baik dengan kaisar Cina. Dalam rangka menjalin hubungan baik tersebut, pada tahun 1479 beliau berkunjung ke Cina dan bertemu dengan kaisar Hong Gie, serta berkenalan dengan sekretaris kerajaan bernama Ma Huan, Jendral Ceng Ho, dan Fei Hsin. Ketiga tokoh itu telah memeluk agama Islam. Disini Sunan Gunungjati membuka praktek pengobatan, dan banyak masyarakat Cina yang berobat kepadanya. Kesempatan ini digunakan sebaik-baiknya oleh beliau untuk berdakwah.

Sunan Gunungjati membangun masjid pada tahun 1480 yang diberi nama Masjid Agung Sang Ciptarasa. Pembangunan masjid ini mendapat bantuan penuh dari Sultan Demak dan Walisongo. Bahkan juga diceritakan bahwa Sunan Kalijogo ikut menyumbangkan sebuah tiang tatal. Masjid ini juga sering dijadikan pusat pertemuan Walisongo untuk membicarakan masalah-masalah yang dihadapi pada saat itu.

Sumber : 
http://nurmuhamadlutpy.blogspot.com/2013/06/sistem-dakwah-walisongo-dalam.html 

No comments:

Post a Comment