Wednesday, December 30, 2015

Resensi Buku MotivatorNon-Fiksi



RESENSI BUKU MOTIVATOR NON FIKSI

Judul buku                   : Merry Riana Mimpi Sejuta Dolar
Pengarang                   : Merry Riana
Penulis                         : Alberthine Endah
Penerbit                       : PT Gramedia Pustaka Utama
Tempat terbit               : Jakarta
Tahun terbit                 : Cetakan keempatbelas edisi cover film, Desember 2014
Jumlah halaman           : 362 halaman

            Buku karangan Merry Riana ini sangat menginspirasi para pembacanya untuk terus berusaha meraih kesuksesan yang diharapkan dan yang dicita-citakan. Saat ini Merry Riana merupakan wanita motivator No 1 di Indonesia karena kesuksesannya yang menginspirasi banyak orang baik di Singapura maupun di Indonesia.
            “Hidup adalah sesuatu yang bergerak. Kekuatan manusia bukanlah sesuatu yang statis. Tuhan menganugerahkan segala fitur pembangkit keberhasilan di dalam tubuh dan pikiran kita. Aku bersyukur karena menyadari itu sejak muda untuk meraih sukses.”
Petikan kalimat Merry Riana itu menjadi prolog buku karya Alberthine Endah. Merry Riana yang terlahir dari keluarga yang sederhana dari seorang ayah yang sangat penyayang dan dari seorang ibu yang penuh perhatian dan penuh kasih membawanya sulit untuk berada jauh dari keduanya.
Buku ini menceritakan kisah sukses Merry Riana. Beliau adalah orang asli Indonesia yang sukses di negeri tetangga, Singapura. Kehidupan awalnya adalah kehidupan rata-rata remaja Indonesia. Keluarga sederhana, pergi sekolah, belajar, pulang ke rumah. Kisah di buku ini dimulai ketika Merry Riana baru lulus SMA. Berawal dari Tragedi Trisakti tahun 1998, membawa Merry Riana terdampar di negeri orang. Wilayah Jakarta yang saat itu sedang ada dalam kecaman, membuat semua orang merasa tidak tenang dan selalu dilanda kegelisahan. Bukan hanya toko yang dijarah, tapi mereka yang tionghoa menjadi bulan-bulanan perusuh, dikambing hitamkan atas fenomena krisis moneter saat itu.
Di saat yang sama, Merry remaja baru saja berbahagia merayakan kelulusan SMA. Ia bersama lulusan Santa Ursula lainnya seakan menyambut gerbang menuju mimpi yang sudah meraka susun. Tak terkecuali Merry yang bercita-cita melanjutkan studi ke PTN ternama di Indonesia. Ia sudah membayangkan menjadi seorang mahasiswi dengan kehidupan kampus yang menyenangkan.
Tapi semua cita-cita itu harus dipendam dalam-dalam. Keputusan untuk melanjutkan kuliah di Universitas Trisakti Jakarta tersebut harus pupus begitu saja karena keadaan yang tidak memungkinkan. Dengan kondisi semencekam itu, banyak warga tionghoa yang akhirnya memutuskan untuk mengungsi sementara ke luar negeri. Orang tua Merry pun berpikiran begitu.
 Ayahnya memutuskan untuk menyekolahkan Merry Riana di Nanyang Technological University (NTU) di negeri Singa, Singapura. Keputusan ayah adalah keputusan terbaik. Itulah harapan terakhir Marry Riana. Dengan berat hati, Merry Riana harus pergi meninggalkan keluarga dan negara Indonesia yang sangat dicintainya. Tidaklah mudah untuk bisa bertahan hidup di negeri orang. Berjuang mempertahankan hidup dengan segala keterbatasan hidup dan keterbatasan ekonomi. Krisis ekonomi moneter yang melanda Indonesia membuatnya harus pandai mengatur biaya hidup di negeri Singa itu.
Kuliah hari pertama di NTU menyambutnya dengan peringatan jelas, betapa uang yang dimilikinya tidaklah berarti banyak. Kehidupan di kampus Nanyang Technology University dilalui Merry Riana dengan penuh perjuangan. Bukan sekali dua ia harus mati-matian bertahan hidup dengan makanan yang sangat sederhana. Bagaimana tidak? Sementara orang tuanya di tanah air membanting tulang mencari nafkah di tengah krisis, ia hanya mendapat kiriman uang yang sangat terbatas. Di Indonesia, dengan uang yang sama mungkin Merry bisa hidup sejahtera. Namun di Singapura, yang dikenal tinggi biaya hidupnya, makan siang dengan sayur tahu di kantin asrama adalah makanan mewah baginya untuk beberapa tahun di NTU. Sisanya, ia sumpal perutnya dengan mie instan atau roti. Ia pun tidak mungkin meminta lebih pada orang tuanya dan hanya bisa “memberi kabar baik” tiap kali berkomunikasi dengan tanah air. Uang yang dikeluarkan untuk pertama kalinya adalah saat ia memesan nasi goreng tanpa campuran apa-apa. Nasi goreng polos. Ia harus merelakan lembaran uang dolar pemberian ayahnya untuk membayar  nasi goreng dengan harga dua dolar atau setara dengan dua puluh ribu rupiah saat itu. Dua puluh ribu hanya untuk sepiring nasi goreng polos. Apalah arti 20 ribu rupiah. Tetapi bagi seorang mahasiswi dengan bekal uang pas-pasan dan dihadapkan pada tuntutan bertahan di masa yang akan panjang selama studi, itu adalah persoalan serius.
Merry Riana tidak bisa selamanya mengandalkan uang kiriman dari kedua orangtuanya. Dia menyadari bahwa kiriman dari orangtua tidak selamanya cukup untuk mencukupi kebutuhan kuliah dan kebutuhan pribadinya. Meskipun sudah berusaha berhemat, namun kebutuhan tidaklah selamanya statis. Maka dari itu, dengan niat yang kuat ia memutuskan untuk bekerja. Pekerjaan pertama yang ia terima adalah sebagai pembagi brosur. Meskipun upah yang diterimanya tidaklah seberapa, yaitu 5 dolar dalam waktu satu jam.
Dari pekejaan pertamanya, tidak memberikan rasa putus asa untuk Merry Riana terus bekerja dan bekerja. Ia pun pernah bekerja sebagai pelayan, dan harus berjuang di jalanan hingga tengah malam dengan 20 presentasi dan rasa lelah yang selalu menyurutkan semangatnya untuk melanjutkan pekerjaannya. Beruntung Merry Riana memiliki seorang partner yang sangat setia menemani, memberikannya semangat dan motivasi untuk terus berjuang dan berusaha dalam mempertahankan hidup dengan bekerja mencari nafkah untuk menghidupi dirinya sendiri.
Sebuah pengalaman bekerja sebagai pegawai magang di sebuah perusahaan membentuk sebuah opini baru dalam benaknya. Ia berpikir bahwa menjadi pegawai bukan jalan yang sesuai dengan mimpinya. Karena menurutnya, menjadi pegawai adalah karir yang pasti punya “batas”. Batas yang pasti mencegahnya dari mencapai mimpi sejuta dolarnya. Maka dengan penuh pertaruhan, Merry bersama Alva, teman kuliahnya yang kelak menjadi suaminya, memutuskan untuk berjuang dalam dunia wirausaha. Mereka memutuskan untuk menapaki usaha finansial consulting yang diawali dari tingkatan sales produk keuangan yang memasarkan produknya di tempat keramaian. Bisa dibayangkan betapa berat tanggapan lingkungan yang harus ia hadapi. Salah satu lulusan terbaik NTU justru memutuskan untuk menjadi sales. Tapi ternyata, keputusan itu adalah keputusan yang benar.
Tak sia-sia. Dari semua pekerjaan yang ia jalani membawanya kedalam masa keemasannya. Menanjaki karir sebagai financial consultant dari nol, hingga pada umur 26 tahun, kurang lebih 4 tahun sejak kelulusannya, ia bisa mendapatkan penghasilan finansial satu juta dolar, berhasil menjadi miliader muda, dan sukses mengembangkan organisasinya yaitu Merry Riana Organization (MRO) di Singapura, meraih beberapa penghargaan diantaranya Star Club President, Top Rookie Consultant of The Year Award, Top Manager of The Year Award dan Agency Development Award. Selain itu, tahun 2006 Marry Riana dianugrahi Nanyang Outstanding Young Alumni Award oleh rektor NTU, kemudian pada tahun 2008 dianugerahi Spirit of Enterprise Award sebagai seorang pengusaha bisnis paling sukses di Singapura dan beberapa penghargaan lainnya.
Jurus-jurus Merry Riana untuk sukses adalah 1) siapapun berhak sukses, 2) jangan pernah takut gagal, 3) berusahalah menjadi berbeda, 4) jeli dalam mengamati konsep kerja, 5) menghargai proses dan lihatlah hasilnya, 6) kebebasab fianansial-visi yang jelas, 7) disiplin adalah sebuah keharusan, 8) miliki passion, 9) peka pada peluang, 10) berhemat dan menabung dan 11) kekuatan iman.
Kelebihan dari buku ini adalah terdapat kata-kata yang menginspirasi dan memotivasi pembaca untuk terus semangat berjuang mempertahankan hidup meski dalam keterbatasan. Selain itu pemulis juga menggunakan bahasa yag mudah dimengerti dan penempatan settingnya sangat detil. Sedangkan kekurangannya buku ini adalah halamannya cukup tebal, ada beberapa judul yang cerita di dalamnya hampir sama, sehingga pembaca dapat mengetahui secara langsung jalan ceritanya tanpa harus membaca secara lengkap.
Buku ini sungguh cocok dibaca oleh siapa pun yang haus akan bacaan-bacaan motivasi. Kisah nyata Merry yang telah berjuang mati-matian dalam meraih mimpinya dengan menjaga etos kerja dan disiplin yang ketat merupakan inspirasi yang penuh makna. Kita pun merasa terdorong untuk berani bermimpi besar, lalu memperjuangkannya sekuat tenaga. Karena, Merry telah membuktikan, mimpi besar bukanlah hal yang mustahil untuk diraih, asalkan kita pantang menyerah dan senantiasa menyertakan Tuhan dalam setiap usaha keras yang kita lakukan. Adapun Saran saya, dibeberapa bagian cerita yang intinya hampir sama tidak perlu di tuliskan berulang kali walaupun dengan judul yang berbeda, hal tersebut dapat mengurangi tebal buku dan membuat pembaca tidak bosan.

No comments:

Post a Comment