RESENSI BUKU NON FIKSI REMAJA MEMBANGUN KEPRIBADIAN
Judul buku :
Remaja Membangun Kepribadian
Penulis :
Anna Windyartini S
Penerbit :
Penerbit Nobel Edumedia
Tempat terbit : Pulogadung, Jakarta Timur
Tahun terbit :
2008
Tebal buku : ix +
79 halaman
Isi pokok buku pada bab pertama
(Berbagai Jenis Keceradasan dalam Diri Manusia), Menjelaskan tentang berbagai
jenis kecerdasan dalam diri manusia, dan cara-cara yang dapat ditempuh untuk
mengembangkan intelegesi tersebut. Dalam pembahasan ini diambil dari beberapa
sumber yang cukup terpercaya, yaitu ahli-ahli Internasional yang professional
di bidang intelegensi, diantaranya Howard Gardner yang merupakan psikolog dari
Amerika Serikat yang telah menemukan sepuluh macam
intelegensi yang terdapat dalam diri anak. Di antaranya yaitu :
1.
Linguistic
intelligence / Kecerdasan linguistik, berkaitan dengan kemampuan bahasa dan
penggunaannya.
2.
Logical-mathematical
intelligence / Kecerdasan logis matematis, berhubungan dengan pola,
rumus-rumus, angka-angka, dan logika.
3.
Musical
intelligence / Kecerdasan musikal, berkaitan dengan musik, melodi, ritme dan
nada.
4.
Bodily-kinesthetic
intelligence / Kecerdasan tubuh-kinestetik, berhubungan dengan pergerakan dan
ketrampilan olah tubuh.
5.
Spatial
intelligence / Kecerdasan spasial, berhubungan dengan bentuk, lokasi dan
membayangkan hubungan di antaranya.
6.
Interpersonal
intelligence / Kecerdasan interpersonal, berhubungan dengan kemampuan untuk
bisa mengerti dan menghadapi perasaan orang lain.
7.
Intrapersonal
intelligence / Kecerdasan intrapersonal, berhubungan dengan kemampuan mengerti
dirinya sendiri.
8.
Naturalist
intelligence, berhubungan dengan kemungkinan anak untuk berinteraksi dengan
lingkungan.
9.
Spiritual
intelligence, memungkinkan anak mengetahui dan memahami bahwa Tuhan telah
memberinya begitu banyak anugerah.
10.
Existensial
intelligence / Kecerdasan eksistensial, berhubungan dengan sebuah imajinasi
tentang keingintahuan mengenai keberadaan dirinya di dunia.
Tidak hanya itu, pada bab pertama
juga dijelaskan cara-cara ampuh untuk mengembangkan potensi / tingkat
intelegensi seorang manusia yang didukung dari hasil pengamatan dan penelitan
ahli.
Pada bab
kedua (Memanfaatkan Berbagai intelegensi), Dijelaskan bahwa setiap orang
memiliki potensi masing-masing dan tidak ada orang yang tidak memiliki potensi
sehingga perlu mengembangkan potensi itu. Setiap orang mempunyai kemampuan
untuk dikembangkan. Dengan kemampuan itulah dunia dibangun bagi masa depan
banyak orang. Oleh karena itu, setiap orang perlu mengembangkan diri terus
menerus.
Tidak
hanya itu, dalam buku ini dalam bab ini dibahas tentang visi dan misi yang
harus ada dalam setiap diri manusia agar dapat mengembangkan potensinya. Selain
itu, juga membahas tentang managemen dan cara untuk belajar dan mengembangkan
potensi diri sesuai dengan kebutuhan / potensi masing-masing sehingga semuanya
dilalui dengan cemerlang. Berikut sedikit pembahasan tentang visi dan misi,
serta tentang manajemen dan cara untuk belajar dan mengembangkan potensinya.
Seorang
yang mau mengembangkan diri tentunya memerlukan sebuah visi. Visi setiap orang
dipengaruhi oleh cara pandang dirinya terhadap dirinya sendiri dan
lingkungannya. Dengan adanya visi, akan mengarahkan kita untuk lebih mampu
melangkah dan mengembangkan diri kita. Setelah menemukan visi, kita akan
melengkapinya dengan misi.
Dibutuhkan
membuat langkah dengan perencanaan yang konkret. Oleh karena itu, kita perlu
mengetahui dan mengenal diri sendiri untuk dapat menemukan kemampuan belajar,
minat, dan proses yang berhasil kita gunakan dalam belajar. Dengan mengenal
diri sendiri kita akan menemukan kakuatan dan kelemahan kita dalam belajar,
sehingga kita dapat menentukan gaya belajar yang cocok dan tepat untuk diri
kita. Ada tiga gaya belajar yang utama, yaitu visual, auditori, dan kinestetis.
a. Gaya pembelajaran visual adalah
belajar dengan cara memproses informasi dengan cara melihat dan membaca
petunjuk atau dengan membayangkan langsung suatu konsep dalam suatu gambaran
yang konkret dan nyata.
b. Gaya pembelajaran auditori belajar
dengan cara mendengarkan dan berdiskusi atau dengan belajar mandiri yang
memerlukan ketenangan.
c. Gaya pembelajaran kinestetis,
biasanya seseorang akan aktif menyerap informasi dengan gerakan atau dengan
cara mambuat kesimpulan dari apa yang mereka dengar, nada suara, tempo, isyarat
dan ekspresi wajah.
Setelah
mengenali gaya belajar, selanjutnya kita perlu membuat rencana kerja, dengan
mulai mengatur waktu belajar secara tepat. Hal-hal yang perlu diperhatikan
yaitu:
a. Konsentrasi,
Untuk
berkonsentrasi, carilah tempat yang hanya digunakan untuk belajar agar dapat
menciptakan suasana belajar yang nyaman dan terhindar dari gangguan.
b. Menciptakan kondisi belajar
Kondisi
belajar yang tenang dan rileks dapat membantu meningkatkan konsentrasi dalam
belajar.
c. Mengatur waktu belajar
Aturlah waktu belajar dengan
menetapkan target hasil belajar berdasarkan meteri yang ingin atau perlu
dicapai. Jangan sampai menunda waktu belajar karena itu berarti kita akan
kehilangan banyak waktu. Bila ada banyak tugas yang harus diselesaikan, cobalah
dengan mengelompokkan pada bagian per bagian, lalu selasaikan sedikit demi
sedikat. Organisirlah waktu belajar, siapkan materi dan singkirkan segala
sesuatu yang dapat mengganggu konsentrasi belajar.
Ada
beberapa metode cara belajar yang baik, yaitu belajar dengan buku teks,
mencatat pelajaran dengan efektif, membuat peta belajar, belajar berkelompok,
rajin membuat catatan, disiplin dalam belajar, aktif bertanya dan ditanya,
belajar dengan serius dan tekun, dan menghindari belajar berlebihan.
Pada
bab ketiga (Study is Beautiful) tidak begitu banyak yang dibahas dalam bab ini
namun cukup meyakinkan kita bahwa belajar itu adalah sesuatu yang indah dan
menyenangkan sehingga timbu motivasi serta semangat untuk belajar.
Pada
bab terakhir/keempat (Berbagai Kisah Tentang Belajar) Pada bab ini,
pembahasannya mengenai pengalaman belajar dari kebanyakan orang dan juga
kisah-kisah unik, menarik, dan menggugah seputar perjalanan belajar seseorang
yang diceritakan secara terbuka oleh orang-orang yang telah mengalaminya.
Cerita-cerita yang diangkat benar-benar menggugah dan memotivasi untuk terus
belajar.
Salah
satunya yaitu mengingat kembali masa kecil Albert Einstein atau Thomas Alfa
Edison. Mereka dulunya hanya memiliki kemampuan akademis pas-pasan, bahkan yang
lebih parah Edison disebut sebagai idiot oleh gurunya sehingga sempat beberapa
kali pindah sekolah. Mungkin dengan kenyataan ini tidak ada orang yang
menyangka bahwa mereka berdua akan sukses dan terkenal dalam hidupnya. Albert
Einstein dan Thomas Alfa Edison adalah contoh anak yang sebetulnya termasuk
cerdas tetapi tidak dapat berprestasi di sekolah. Anak-anak golongan ini
biasanya oleh orang tuanya dikelihkan sebagai anak bodoh, nakal, atau sulit
belajar. Padahal perlakuan seperti ini sama saja menghancurkan kreativitas atau
membunuh karakter anak. Hai ini dapat menimbulkan rasa mudah putus asa bagi
anak yang dapat berimbas pada kurangnya semangat dan ketertarikan anak pada
pelajaran di sekolah.
Menurut
Mariam Diamond, pada umur berapapun kemampuan mental manusia sebenarnya masih
bisa dioptimalkan dengan aktivitas intelektual dan interaksi lingkungan. Selain
Mariam Diamond, Bobbi DePorter juga menyatakan bahwa optimalisasi kemampuan
mental bisa dimunculkan lagi melalui pendekatan yang disebut Quantum Learning
(QL). QL disebut juga accelerated learning (pemercepatan belajar) yang
memadukan keterampilan dalam hidup, keterampilan akademik, dan prestasi
mengatasi tantangan fisik untuk mencapai sukses. Pendekatan QL secara prinsip
merupakan metode yang memungkinkan siswa mempelajari sesuatu secara cepat
dengan upaya normal dan disertai kegembiraan.
Penelitian
Georgi Lozanov menunjukkan bahwa jenis musik barok bisa membuat orang menjadi
setengah rileks sehingga tetap mampu berkonsentrasi. Saat belajar, belahan otak
kiri yang proses berpikirnya bersifat linear, logis, sekuensial, dan rasional
diaktifkan. Sedangkan proses berpikir otak kanan yang bersifat acak, tidak
teratur, intuitif, dan holistik tidak. Di sinilah musik berfungsi, yaitu
merangsang otak kanan sehingga tidak mengganggu kinerja otak kiri. Semua itu
menimbulkan siklus emosi positif, kekuatan otak, keberhasilan, dan kehormatan
diri.
Karakter
Isi Buku buku ini menarik dan memiliki ciri khas dibandingkan buku psikologi
remaja lainnya karena gaya bahasa yang digunakan mampu dicerna dengan baik,
tidak hanya itu pembahasan buku ini singkat tapi dapat membuat pembaca memahami
maksudnya, tidak seperti kebanyakan buku yang terlalu berbelit-belit dalam
menyampaikan gagasan. Selain itu penulisan buku ini didasarkan kepada sumber
yang universal karena sumbernya dimulai dari ahli internasional hingga dari
pengalaman masyarakat biasa.
Kelebihan
dari buku ini adalah buku ini memiliki pembahasan yang singkat namun mudah
dipahami, buku ini ditulis berdasar pada gagasan yang dapat dipercaya seperti
ahli psikolog dunia, nasional dan bahkan pengalaman langsung dari masyarakat
Indonesia sehingga tetap menggambarkan karakter belajar orang Indonesia, dan Contoh-contoh
yang digunakan menarik dan menggugah untuk memotivasi remaja agar lebih
semangat untuk belajar dan meningkatkan potensi diri.
Dan
adapun kekurangan dari buku ini adalah masih ada sejumlah kata-kata yang
kemungkinan sulit dicerna oleh pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP), padahal
seharusnya buku semacam ini sudah dapat dibaca oleh siswa / siswi SMP yang pada
saat itu mulai menginjak masa remaja, Gambar ilustrasi yang digunakan masih
kurang sehingga memungkinkan terjadi kepenatan saat membaca, dan yang terakhir
motivasi dalam buku ini harus dianalisis karena minimnya pemaparan langsung
penulis atau sejumlah ahli, seharusnya buku psikologi remaja semacam ini
mengangkat kata-kata bijak ahli tentang materi yang berkaitan dengan bahasan
setiap sub bab.

No comments:
Post a Comment