Thursday, December 31, 2015

 

RESENSI BUKU NON FIKSI REMAJA MEMBANGUN KEPRIBADIAN


Judul buku      : Remaja Membangun Kepribadian
Penulis             : Anna Windyartini S
Penerbit           : Penerbit Nobel Edumedia
Tempat terbit   : Pulogadung, Jakarta Timur
Tahun terbit     : 2008
Tebal buku      : ix + 79 halaman

Isi pokok buku pada bab pertama (Berbagai Jenis Keceradasan dalam Diri Manusia), Menjelaskan tentang berbagai jenis kecerdasan dalam diri manusia, dan cara-cara yang dapat ditempuh untuk mengembangkan intelegesi tersebut. Dalam pembahasan ini diambil dari beberapa sumber yang cukup terpercaya, yaitu ahli-ahli Internasional yang professional di bidang intelegensi, diantaranya Howard Gardner yang merupakan psikolog dari Amerika Serikat yang telah menemukan sepuluh macam intelegensi yang terdapat dalam diri anak. Di antaranya yaitu :
1.      Linguistic intelligence / Kecerdasan linguistik, berkaitan dengan kemampuan bahasa dan penggunaannya.
2.      Logical-mathematical intelligence / Kecerdasan logis matematis, berhubungan dengan pola, rumus-rumus, angka-angka, dan logika.
3.      Musical intelligence / Kecerdasan musikal, berkaitan dengan musik, melodi, ritme dan nada.
4.      Bodily-kinesthetic intelligence / Kecerdasan tubuh-kinestetik, berhubungan dengan pergerakan dan ketrampilan olah tubuh.
5.      Spatial intelligence / Kecerdasan spasial, berhubungan dengan bentuk, lokasi dan membayangkan hubungan di antaranya.
6.      Interpersonal intelligence / Kecerdasan interpersonal, berhubungan dengan kemampuan untuk bisa mengerti dan menghadapi perasaan orang lain.
7.      Intrapersonal intelligence / Kecerdasan intrapersonal, berhubungan dengan kemampuan mengerti dirinya sendiri.
8.      Naturalist intelligence, berhubungan dengan kemungkinan anak untuk berinteraksi dengan lingkungan.
9.      Spiritual intelligence, memungkinkan anak mengetahui dan memahami bahwa Tuhan telah memberinya begitu banyak anugerah.
10.  Existensial intelligence / Kecerdasan eksistensial, berhubungan dengan sebuah imajinasi tentang keingintahuan mengenai keberadaan dirinya di dunia.
Tidak hanya itu, pada bab pertama juga dijelaskan cara-cara ampuh untuk mengembangkan potensi / tingkat intelegensi seorang manusia yang didukung dari hasil pengamatan dan penelitan ahli.
Pada bab kedua (Memanfaatkan Berbagai intelegensi), Dijelaskan bahwa setiap orang memiliki potensi masing-masing dan tidak ada orang yang tidak memiliki potensi sehingga perlu mengembangkan potensi itu. Setiap orang mempunyai kemampuan untuk dikembangkan. Dengan kemampuan itulah dunia dibangun bagi masa depan banyak orang. Oleh karena itu, setiap orang perlu mengembangkan diri terus menerus.
Tidak hanya itu, dalam buku ini dalam bab ini dibahas tentang visi dan misi yang harus ada dalam setiap diri manusia agar dapat mengembangkan potensinya. Selain itu, juga membahas tentang managemen dan cara untuk belajar dan mengembangkan potensi diri sesuai dengan kebutuhan / potensi masing-masing sehingga semuanya dilalui dengan cemerlang. Berikut sedikit pembahasan tentang visi dan misi, serta tentang manajemen dan cara untuk belajar dan mengembangkan potensinya.
Seorang yang mau mengembangkan diri tentunya memerlukan sebuah visi. Visi setiap orang dipengaruhi oleh cara pandang dirinya terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya. Dengan adanya visi, akan mengarahkan kita untuk lebih mampu melangkah dan mengembangkan diri kita. Setelah menemukan visi, kita akan melengkapinya dengan misi.
Dibutuhkan membuat langkah dengan perencanaan yang konkret. Oleh karena itu, kita perlu mengetahui dan mengenal diri sendiri untuk dapat menemukan kemampuan belajar, minat, dan proses yang berhasil kita gunakan dalam belajar. Dengan mengenal diri sendiri kita akan menemukan kakuatan dan kelemahan kita dalam belajar, sehingga kita dapat menentukan gaya belajar yang cocok dan tepat untuk diri kita. Ada tiga gaya belajar yang utama, yaitu visual, auditori, dan kinestetis.
a.       Gaya pembelajaran visual adalah belajar dengan cara memproses informasi dengan cara melihat dan membaca petunjuk atau dengan membayangkan langsung suatu konsep dalam suatu gambaran yang konkret dan nyata.
b.      Gaya pembelajaran auditori belajar dengan cara mendengarkan dan berdiskusi atau dengan belajar mandiri yang memerlukan ketenangan.
c.       Gaya pembelajaran kinestetis, biasanya seseorang akan aktif menyerap informasi dengan gerakan atau dengan cara mambuat kesimpulan dari apa yang mereka dengar, nada suara, tempo, isyarat dan ekspresi wajah.   
            Setelah mengenali gaya belajar, selanjutnya kita perlu membuat rencana kerja, dengan mulai mengatur waktu belajar secara tepat. Hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu:
a.       Konsentrasi,
Untuk berkonsentrasi, carilah tempat yang hanya digunakan untuk belajar agar dapat menciptakan suasana belajar yang nyaman dan terhindar dari gangguan.
b.      Menciptakan kondisi belajar
Kondisi belajar yang tenang dan rileks dapat membantu meningkatkan konsentrasi dalam belajar.
c.       Mengatur waktu belajar
Aturlah waktu belajar dengan menetapkan target hasil belajar berdasarkan meteri yang ingin atau perlu dicapai. Jangan sampai menunda waktu belajar karena itu berarti kita akan kehilangan banyak waktu. Bila ada banyak tugas yang harus diselesaikan, cobalah dengan mengelompokkan pada bagian per bagian, lalu selasaikan sedikit demi sedikat. Organisirlah waktu belajar, siapkan materi dan singkirkan segala sesuatu yang dapat mengganggu konsentrasi belajar.
Ada beberapa metode cara belajar yang baik, yaitu belajar dengan buku teks, mencatat pelajaran dengan efektif, membuat peta belajar, belajar berkelompok, rajin membuat catatan, disiplin dalam belajar, aktif bertanya dan ditanya, belajar dengan serius dan tekun, dan menghindari belajar berlebihan.
Pada bab ketiga (Study is Beautiful) tidak begitu banyak yang dibahas dalam bab ini namun cukup meyakinkan kita bahwa belajar itu adalah sesuatu yang indah dan menyenangkan sehingga timbu motivasi serta semangat untuk belajar.
Pada bab terakhir/keempat (Berbagai Kisah Tentang Belajar) Pada bab ini, pembahasannya mengenai pengalaman belajar dari kebanyakan orang dan juga kisah-kisah unik, menarik, dan menggugah seputar perjalanan belajar seseorang yang diceritakan secara terbuka oleh orang-orang yang telah mengalaminya. Cerita-cerita yang diangkat benar-benar menggugah dan memotivasi untuk terus belajar.
Salah satunya yaitu mengingat kembali masa kecil Albert Einstein atau Thomas Alfa Edison. Mereka dulunya hanya memiliki kemampuan akademis pas-pasan, bahkan yang lebih parah Edison disebut sebagai idiot oleh gurunya sehingga sempat beberapa kali pindah sekolah. Mungkin dengan kenyataan ini tidak ada orang yang menyangka bahwa mereka berdua akan sukses dan terkenal dalam hidupnya. Albert Einstein dan Thomas Alfa Edison adalah contoh anak yang sebetulnya termasuk cerdas tetapi tidak dapat berprestasi di sekolah. Anak-anak golongan ini biasanya oleh orang tuanya dikelihkan sebagai anak bodoh, nakal, atau sulit belajar. Padahal perlakuan seperti ini sama saja menghancurkan kreativitas atau membunuh karakter anak. Hai ini dapat menimbulkan rasa mudah putus asa bagi anak yang dapat berimbas pada kurangnya semangat dan ketertarikan anak pada pelajaran di sekolah.
            Menurut Mariam Diamond, pada umur berapapun kemampuan mental manusia sebenarnya masih bisa dioptimalkan dengan aktivitas intelektual dan interaksi lingkungan. Selain Mariam Diamond, Bobbi DePorter juga menyatakan bahwa optimalisasi kemampuan mental bisa dimunculkan lagi melalui pendekatan yang disebut Quantum Learning (QL). QL disebut juga accelerated learning (pemercepatan belajar) yang memadukan keterampilan dalam hidup, keterampilan akademik, dan prestasi mengatasi tantangan fisik untuk mencapai sukses. Pendekatan QL secara prinsip merupakan metode yang memungkinkan siswa mempelajari sesuatu secara cepat dengan upaya normal dan disertai kegembiraan.
            Penelitian Georgi Lozanov menunjukkan bahwa jenis musik barok bisa membuat orang menjadi setengah rileks sehingga tetap mampu berkonsentrasi. Saat belajar, belahan otak kiri yang proses berpikirnya bersifat linear, logis, sekuensial, dan rasional diaktifkan. Sedangkan proses berpikir otak kanan yang bersifat acak, tidak teratur, intuitif, dan holistik tidak. Di sinilah musik berfungsi, yaitu merangsang otak kanan sehingga tidak mengganggu kinerja otak kiri. Semua itu menimbulkan siklus emosi positif, kekuatan otak, keberhasilan, dan kehormatan diri.
Karakter Isi Buku buku ini menarik dan memiliki ciri khas dibandingkan buku psikologi remaja lainnya karena gaya bahasa yang digunakan mampu dicerna dengan baik, tidak hanya itu pembahasan buku ini singkat tapi dapat membuat pembaca memahami maksudnya, tidak seperti kebanyakan buku yang terlalu berbelit-belit dalam menyampaikan gagasan. Selain itu penulisan buku ini didasarkan kepada sumber yang universal karena sumbernya dimulai dari ahli internasional hingga dari pengalaman masyarakat biasa.
Kelebihan dari buku ini adalah buku ini memiliki pembahasan yang singkat namun mudah dipahami, buku ini ditulis berdasar pada gagasan yang dapat dipercaya seperti ahli psikolog dunia, nasional dan bahkan pengalaman langsung dari masyarakat Indonesia sehingga tetap menggambarkan karakter belajar orang Indonesia, dan Contoh-contoh yang digunakan menarik dan menggugah untuk memotivasi remaja agar lebih semangat untuk belajar dan meningkatkan potensi diri.
Dan adapun kekurangan dari buku ini adalah masih ada sejumlah kata-kata yang kemungkinan sulit dicerna oleh pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP), padahal seharusnya buku semacam ini sudah dapat dibaca oleh siswa / siswi SMP yang pada saat itu mulai menginjak masa remaja, Gambar ilustrasi yang digunakan masih kurang sehingga memungkinkan terjadi kepenatan saat membaca, dan yang terakhir motivasi dalam buku ini harus dianalisis karena minimnya pemaparan langsung penulis atau sejumlah ahli, seharusnya buku psikologi remaja semacam ini mengangkat kata-kata bijak ahli tentang materi yang berkaitan dengan bahasan setiap sub bab.

No comments:

Post a Comment